Rabu

17 Okt 2018

Pengunjung Hari Ini : 2.551,   Bulan Ini : 45.141
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER
  • Manusia Bisa Tenang dengan Posisi Kecil Sekalipun Lantaran Matang Hal-hal Besar

    Ir Syaiful Bahri
    Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Medan

    Telah dibaca 2080 kali

    Jumat, 18 April 2014 | 14:48 WIB

    Bertekad berbuat baik selama hidup adalah motto Ir Syaiful Bahri. Disiasati sepenuh hati melalui berbagai kapasitas diri. Menariknya lagi, Syaiful Bahri sangat mempercayai, seorang manusia akan bisa tenang menerima posisi kecil sekalipun lantaran telah matang dengan berbagai hal-hal besar.

    Sumringah plus lembut menyapa. Begitulah pesona awal Syaiful Bahri tatkala dijumpai Jurnalis MartabeSumut Budiman Pardede di Balai Kota Medan, kemarin. Kendati baru pertama kali berbincang secara khusus dengan Pejabat Esselon II A berpangkat Pembina Utama Muda itu, toh seketika sudah tercermin sosok santun, rendah hati dan penuh kekeluargaan. "Saya menjalani hidup dan pekerjaan dengan niat baik saja. Kemudian berserah kepada Allah Swt. Cuma itu saja," ujar Syaiful mengawali percakapan, membuka resep hidupnya.

    Dalam sekejap aura persahabatan mulai bertaburan tiap mendengarkan ucapan yang dilontarkan pria kelahiran Semarang, 8 November 1959. Belum lagi balutan seragam dinas lengan panjang coklat muda yang dikenakan ikut menguatkan jati dirinya sebagai figur panutan. Namun semua diakui Syaiful biasa saja karena manusia hidup memang bertugas mengemban serta mengelola amanah. Manusia justru disebutnya akan luar biasa bila bisa mewujudkan amanah dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik walau dalam posisi kecil. "Harta, tahta dan kuasa merupakan titipan sementara. Kalau kita lupa diri atau salah menata, berarti kita yang mempertanggungjawabkannya kelak. Kecil atau besar posisi kita sekarang, tergantung sikap kita," terang Syaiful.

    Staf Biasa


    PNS Golongan IV d ini membeberkan, pada tahun 2005 dirinya mulai ditempatkan bekerja di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Medan dengan posisi staf biasa. Padahal jabatan yang diemban Syaiful sebelumnya sebagai Kepala Bappeda Kabupaten Asahan. Syaiful mengaku tidak marah, kesal apalagi mencoba menganalisa pola mutasi yang dilakukan pimpinan. Tapi dia sangat meyakini bahwa semua yang terjadi dan dimiliki manusia merupakan kehendak Yang Maha Kuasa. "Tolong dicatat, seseorang bisa tetap tenang, mampu memaklumi atau dapat menerima keadaan kecil sekalipun karena telah matang melalui hal-hal besar. Saya selalu menyikapi apa saja dengan berserah kepadaNya serta memaksimalkan hal-hal baik," singkap buah pernikahan H Moh Ali Hanafiah Lubis (Alm) dan Hj Basiah Nasution (Alm) itu mantap. 

    Sebagai abdi negara, kata suami dari Ir Suti Saidah Nasution itu lagi, kapasitas pribadi dan keluarga secara otomatis berkorelasi erat dengan tugas pokok maupun fungsi jabatan yang diemban. Artinya, setiap kiprah pekerjaan pada akhirnya selalu dituntut harus baik atau tidak berpredikat minus di mata masyarakat. Walau putra ke-2 dari 8 bersaudara ini memastikan masing-masing persoalan bersifat terpisah, namun tetap saja memiliki implikasi bila suatu waktu muncul gejala kurang baik. Itulah sebabnya, semenjak dini, Syaiful tidak pernah memberi tahu anak-anaknya soal jabatan publik yang diemban berkali-kali. "Kita berbuat bagus dan baik saja belum tentu disikapi orang positif. Makanya saya tak mau anak-anak tahu bapaknya pejabat. Sebab memungkinkan lahirnya kesombongan atau persoalan baru," cetusnya.

    Tugas Pamong Dinamis

    Bapak dari Safrida Amelia Lubis (19), Raufah Melvidya Lubis (17) dan Ali Supi Lubis (10) ini menyatakan, penerapan tugas pokok/fungsi Pegawai Negeri Sipil (PNS) selaku pamong sebenarnya masuk kategori dinamis. Karena selain mengabdi tanpa batas, juga memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat luas. Menyinggung pengalaman bertahun-tahun di Bappeda, Syaiful menilai, selain menyangkut keberadaan populasi yang jauh-jauh hari sudah ada, juga dilatarbelakangi urgensitas kebijakan menata perkembangan yang sulit dihentikan. Dalam artian, imbuhnya, tanggungjawab Bappeda yang melekat meliputi berbagai aspek strategsi semisal; penyusunan rencana pembangunan kota secara makro, menyiapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah/Panjang (RPJM/RPJP), mempersiapkan dokumen perencanaan pembangunan, menyusun program dan mengusulkan rencana kerja pembangunan pemerintah daerah. "Kemudian rencana dan persiapan diajukan Pemerintah ke DPRD untuk dibahas," ungkapnya.

    Kesemua tugas ditegaskan Syaiful menjadi sakral tatkala terselip kepentingan umum kota serta kenyamanan masyarakat umum. Syaiful mengatakan, sebagai pejabat penting yang diberi mandat mengelola kebijakan memajukan pembangunan Kota Medan, saat ini, dirinya selalu positif mengamati semua perkembangan dengan landasan pemikiran baik. Berbagai masukan yang datang dipandangnya perlu dalam kerangka perbaikan dan kebaikan semua pihak. "Kita pasti setuju penataan kota dan kenyamanan masyarakat Medan bisa terwujud. Harus diingat, berbagai keterbatasan dan kekurangan tidak terlepas dari kemajuan zaman yang kompleks/dinamis. Jadi diperlukan niat baik dari semua komponen daerah memberi masukan," aku pria bertinggi 166 Cm dan berat 67 Kg ini, sembari mencontohkan dinamika tata ruang kota yang sepatutnya dievaluasi setiap 5 tahun.

    Pendidikan dan Karir Pekerjaan

    Dilahirkan di Semarang, Syaiful melalui masa kecil dan sekolah di Padang Sidempuan. Pendidikan dasar diselesaikan tahun 1973 dari SD No 16 Padang Sidempuan. Kemudian melanjut ke SMP 1 Padang Sidempuan hingga tamat tahun 1976. Memasuki bangku SMA situasi Syaiful mulai berbeda. Kelas I dijalani di SMA 1 Padang Sidempuan sementara Kelas II dan III dilanjutkan ke SMA I Bandung hingga rampung tahun 1979.

    Usai menamatkan studi dari bangku SMA Syaiful memutuskan melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Mencoba "retak tangan" dengan mengikuti seleksi perguruan tinggi negeri (PTN) melalui jalur Perintis I. Nasib berpihak! Syaiful diterima dan resmi menyandang status mahasiswa Teknik Sipil Perencanaan ITB sejak tahun 1979. Merasa suka terhadap ilmu pengukuran dan pemetaan bumi, tahun 1980 Syaiful menetapkan hati mengambil jurusan Geodesi. Proses menimba ilmu dituntaskannya dari ITB kurang lebih 7 tahun dan berhak menyandang gelar Insinyur (Ir) pada tahun 1987. Menurut Syaiful, setelah tamat kuliah dia langsung bekerja di salah satu perusahaan seismic exploration yang bergerak pada bidang eksplorasi minyak. "Saya bekerja di sana sejak tahun 1987. Lokasi kerja selalu berpindah-pindah sehingga punya kenangan khusus saat mengunjungi berbagai wilayah dari Aceh sampai Papua," terang penyuka makanan rendang itu bangga.

    Hijrah ke Medan

    Sekira tahun 1991 anak mantan Kakandep P & K Medan masa kepemimpinan Walikota AS Rangkuti ini terpaksa memutar haluan. Pasalnya, ibu Syaiful meninggal dunia sehingga sang Bapak memintanya pulang untuk ditemani tinggal di Medan. Kendati masih bekerja di perusahaan eksplorasi, kala itu, toh Syaiful tak bisa mengelak. Mau tak mau dia bermain "sulap" terhadap pekerjaan sehingga bisa "mencuri" waktu off untuk turun ke Medan. Urusan keluarga dijadikannya alasan supaya dapat meninggalkan kerja. Nah, setiba di Medan, "kecamuk" Syaiful justru terobati. Sebab pada saat itu ada seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). "Ceritanya seru banget karena bermain dengan waktu dan pekerjaan yang tidak saya tinggalkan. Waktu itu saya tes CPNS di salah satu SD Jalan Monginsidi. Setelah ujian saya berangkat ke Nias dan di daerah itulah datang surat TIKI yang menyatakan kelulusan CPNS," terang Syaiful dengan mata berbinar-binar.

    Karir PNS

    Berbicara mengenai karir di PNS, Syaiful justru melepaskan senyum. Dia memastikan, memulai debut sebagai PNS semuanya tidak terlepas dari tuntunan dan anugerah Allah Swt. Syaiful merinci, pengabdiannya diawali pada bidang pisik dan prasarana kantor Bappeda Provinsi Sumut sekira bulan Juni tahun 1992. Tiga tahun bertugas, tahun 1995 Syaiful pindah ke Binjai karena mendapat promosi sebagai Kabid Pisik Bappeda Binjai. Lalu tahun 1996-1998 dipercaya menempati posisi baru menjadi Kabag Penyusunan Program Pemko Binjai. Karir Syaiful tampaknya terus melejit dan makin strategis. Dia dipercaya lagi memegang jabatan Sekretaris Bappeda Binjai sejak tahun 1998. Posisi tersebut dijalani Syaiful kurang lebih 2 tahun.

    Akhir 2000 Syaiful hijrah ke Asahan. SK penempatan baru memposisikan dirinya menjadi Sekretaris Bappeda Asahan. Satu tahun kemudian dia dipercaya sebagai Kepala Bappeda Asahan hingga tahun 2003. Setelah itu Syaiful kembali diangkat menjadi Kadis Pertambangan Asahan sampai tahun 2005. "Tahun 2005-2006 saya balik ke Medan dan menjadi staf "kecil" biasa di Bappeda," cetusnya bersemangat, tetap menyiratkan senyum di kulum.

    Cerita Syaiful terhenti sejenak. Seorang staf memasuki ruangan dan menyuguhkan beberapa lembar kertas dalam bundelan. Dengan seksama Syaiful menatap onggokan kertas untuk selanjutnya melepaskan tanda tangan dan menyampaikan beberapa pesan. Pemilik hobby membaca itu melanjutkan, pada tahun 2006-2009 dirinya mulai dimutasi dengan posisi baru Kabid Pisik Bappeda Medan. Kemudian resmi memangku jabatan sebagai Kepala Bappeda Medan sejak bulan Maret 2009. Karir Syaiful kian meroket pada pertengahan 2010. Bukan apa-apa, jabatan strategis Sekda Medan dipercayakan oleh Walikota Medan Rahudman Harahap kepadanya hingga saat ini. "Semua adalah anugerahNya. Sekali lagi saya tegaskan, saya iklas walau tidak punya jabatan atau diberi posisi kecil sekalipun. Saya berkeyakinan hal-hal seperti itu tidak kekal melainkan titipan. Tapi bila dipercaya, saya bertekad berbuat baik dalam hidup dan memberikan maksimal pengabdian tugas/fungsi," ungkap pemakai sepatu bernomor 41. 

    Boleh tahu apa target Anda kedepan? Pria yang mengakhiri masa lajang pada Januari 1993 ini malah menampilkan tatapan serius. Baginya, melakukan hal-hal baik sebanyak mungkin dan memasrahkan diri kepada Tuhan, menjadi tujuan hidup yang terus ditingkatkan. Syaiful mengakui, ketika kumpul dengan keluarga dirinya tidak pernah bosan memberi wejangan. Meminta semua anak-anaknya selalu mengubah diri, melakukan perbuatan baik serta mewujudkan kualitas hidup yang bermanfaat bagi diri maupun orang lain. (Budiman Pardede/Foto: MartabeSumut/IKLAN PROFILE PARIWARA)

    Kirim Komentar Anda
     
    Nama :
    Kota :
    Email :
    Komentar :
       
     

     
    (Masukkan 6 kode di atas)

     

       
     


    Memahami UU PERS Nomor 40 tahun 1999

    Akhir-akhir ini banyak kalangan internal (pegiat, organisasi profesi/perusahaan) PERS maupun pihak eksternal (masyarakat/narasumber) yang keliru dan main hakim sendiri saat menilai kinerja PERS.

    3 Media Penyebab Timbulnya Jerawat

    Banyak orang tak menyangka bahwa selain debu yang kerap melekat dalam kulit, ternyata ada 3 media (barang-barang) yang selalu kita pakai dan berisiko menimbulkan jerawat.

    MARTABE SUMUT

  • HOME
  • MARTABE TERPANAS
  • KELILING MEDAN
  • YA AKU MENGATAKANNYA
  • NGINTIP DPRDSU
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
  • SOSOK MARTABE
  • DAERAH
  • INDEX BERITA
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER