Selasa

19 Jun 2018

Pengunjung Hari Ini : 961,   Bulan Ini : 37.182
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER
  • Usia Belia, Semangat Mempesona

    Rinawati Sianturi, SH
    Anggota DPRD Sumut/Caleg DPRD Sumut 2014-2019 Nomor Urut 2 Dapil X

    Telah dibaca 6325 kali

    Kamis, 31 Oktober 2013 | 00:14 WIB

    Kendati usianya masih tergolong belia, toh semangat Rinawati Sianturi, SH (33) dalam blantika politik cukup mempesona. Tak heran, pengalaman 5 tahun sebagai legislator Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara (DPRD Sumut) telah menorehkan energi besar untuk kembali berkiprah 5 tahun kedepan.

     

    Tatkala ditemui Jurnalis MartabeSumut Budiman Pardede, Jumat siang (18/10/2013) di Lt III ruang Fraksi Partai Persatuan Rakyat Nasional (PPRN) gedung DPRD Sumut, Rinawati tampil feminim dibaluti perilaku bernuansa familiar. Satu pemandangan yang jamak terlihat dalam setiap rutinitas perempuan yang selalu murah senyum ini. "Apa nih yang mau kita beritakan, memang profil saya apa yang menarik untuk ditulis," kata Rinawati merendah, mengawali percakapan. Beberapa saat kemudian Rinawati sudah terlihat sibuk melayani panggilan masuk ke telepon genggamnya. Berbicara serius sejenak dan memperdengarkan janji kesiapan untuk bertemu dengan seseorang. "Maaf ya, ada beberapa tamu yang menelepon dan berniat menemui saya sebentar lagi," ucapnya lugas. Perlu diketahui, dari sanalah angle tulisan ini muncul sehingga berani memastikan penilaian kalau usia belia yang disandang Rinawati berkorelasi erat dengan semangat berapi-api. Selintas berikutnya Rinawati sudah pula memberikan arahan kerja kepada salah satu staf perempuan yang ikut mendampingi. Lalu duduk santai lagi melanjutkan wawancara. Namun belum sempat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan, seorang tamu terlanjur masuk dan langsung dibawa Rinawati ke ruang kerja. "Maaf ya, saya ada urusan dikit sebentar. Nanti kita lanjutkan," ujar istri dari Samsudin Siregar SH, tersebut sambil berjalan memasuki ruangannya.

     

    Selang 15 menit kemudian tamu Rinawati pulang. Perempuan bertinggi badan 156 Cm dengan berat 55 Kg itu kembali duduk di ruang tamu meneruskan wawancara. "Apalagi kira-kira yang masih kurang," cetusnya, tetap dengan senyum bersemangat. Nah, bila ditelisik lebih dekat, sosok bersemangat Rinawati yang dipenuhi kecerdasan sikap benar-benar memunculkan kagum teramat dalam. Bisa ditebak, pasti pola-pola inilah yang dijadikan Rinawati sebagai landasan kesuksesan dalam meniti  aktivitas sebagai politisi maupun menghadapi urusan lain.

     

    Masa Kecil dan Pendidikan

     

    Dilahirkan di Siborongborong Kabupaten Tapanuli Utara Sumatera Utara pada 28 Oktober 1980, Rinawati melalui masa kecil di daerah penghasil makanan khas Batak bernama ombus-ombus itu. Kemudian memulai pendidikan formal dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) Siborongborong hingga tamat tahun 1992. Selanjutnya Rinawati hijrah ke Medan menempuh jenjang pendidikan menengah pertama. Dia memilih belajar di SMPN 8 Medan sampai akhirnya selesai tahun 1995. Jenjang studi berikut diteruskan Rinawati ke gerbang sekolah yang tergolong favorite, seleksi ketat serta termasuk incaran generasi pintar di Medan. Ya, Rinawati tercatat menjadi seorang siswa di SMAN I Medan dan menuntaskan pendidikan pada tahun 1998. Usai menamatkan studi dari jenjang menengah atas, Rinawati melanjutkan menimba ilmu ke lembaga pendidikan tinggi. Kali ini dia hijrah ke kota 'kembang' menuju Poltek Negeri ITB Bandung. Tapi gara-gara sesuatu hal, Rinawati hanya bisa menempuh studi sedari tahun 1999-2001. Realita studi pendidikan tinggi yang 'gantung' tersebut tentu saja membuatnya seperti kehilangan sesuatu. Sehingga tanpa berfikir panjang, tahun 2008 Rinawati memutuskan meneruskan studi ke Fak Hukum Amir Hamzah Medan hingga meraih predikat gelar Sarjana Hukum (SH) pada tahun 2013.

     

    Semangat di Dunia Politik

     

    Usia belia memang tidak selamanya harus belia dalam pemikiran, wawasan, pengalaman, kecerdasan hingga semangat. Sebab banyak yang muda tapi belum tentu memiliki semangat yang tinggi pula. Kalimat ini tampaknya tepat bila disandingkan kepada sosok Rinawati. Bukan apa-apa, sebelum resmi menjalankan tugas sebagai anggota DPRD Sumut periode 2009-2014 dari PPRN, sebenarnya semangat Rinawati di dunia politik telah diawali sedari tahun 2008-2009 sebagai anggota DPRD Sumut hasil pergantian antar-waktu (PAW) dari Partai Nasionalis Bung Karno (PNBK). 

     

    Caleg DPRD Sumut dari Partai Hanura

     

    Kini Rinawati harus putar haluan politik. Mencoba peruntungan lagi dengan target 1 kursi DPRD Sumut periode 2014-2019 dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Perahu PPRN yang menghantarkannya duduk di DPRD Sumut sejak 2009 lalu terpaksa ditinggalkan karena tidak lolos verifikasi Pemilu 2014. "Masyarakat Sumut dan rakyat Indonesia harus menjauhkan diri dari praktik transaksional jual beli suara dalam setiap ajang Pemilihan Umum (Pemilu). Baik Pemilu Kepala Daerah (Pilkada), Pemilu Legislatif (Pileg) hingga Pemilu Presiden (Pilpres). Sebab praktik tersebut mencerminkan pembusukan budaya, merusak iklim demokrasi dan menghasilkan bobot pemimpin yang tidak amanah," cetus ibu dari Quinadin Siregar (8 bulan) itu diplomatis.

     

    Perempuan yang tinggal di Jalan Sriwijaya Nomor 16/28 Medan ini membeberkan, selaku calon legislatif (Caleg) Partai Hanura untuk DPRD Sumut periode 2014-2019 Nomor Urut 2 Daerah Pemilihan (Dapil) X Kota Pematang Siantar dan Kab Simalungun, dirinya mulai mencium aroma kurang sedap terkait masyarakat transaksional dalam pentas Pemilu 2014. Dipraktikkan bebas dan lepas tanpa memikirkan dampak buruk luas kedepan. "Makanya rakyat wajib mengenali bobot masing-masing Caleg. Jangan mau menjadi masyarakat transaksional menjelang pelaksanaan Pemilu 2014," yakin penggemar sayur-sayuran dan pecal itu.

     

    Pengkondisian Segelintir Elite Berkepentingan

     

    Menjelang pelaksanaan Pilkada, Pileg dan Pilpres, masyarakat transaksional disebut Rinawati akan bermunculan akibat pengkondisian segelintir elite yang menargetkan kepentingan sesaat. Artinya, kata pemakai parfum  body shoap ini lebih jauh, mindset (cara fikir-Red) masyarakat diubah secara praktis dengan konsepsi jual beli suara. Sehingga seorang Caleg atau anggota Dewan yang datang menemui rakyat dengan semangat perubahan kesejahteraan dan pembangunan daerah justru 'ditodong' nominal rupiah. Rinawati mencontohkan, selaku anggota DPRD Sumut, dirinya selalu mendatangi konstituen ke daerah-daerah dengan menawarkan penyelesaian masalah atas berbagai persoalan di lapangan. "Saya katakan kepada masyarakat kalau saya bukan malaikat. Saya datang menemui rakyat untuk bertanya dan menawarkan anggaran kesejahteraan yang besar kemungkinan bisa saya perjuangakan untuk dialokasikan kepada rakyat di daerah," akunya.

     

    Ironisnya lagi, imbuh pemegang motto hidup "jalani semuanya karena hidup terus berlalu dan kasihilah musuhmu", kehadiran mayoritas Caleg yang sengaja mensosialisasikan diri ke Dapil masing-masing, saat ini cenderung tidak dipercaya rakyat. Kedatangan Caleg malah dipandang sebagai sesuatu yang diukur sebatas transaksi uang melalui pembelian suara. "Money oriented saat Pemilu jangan sampai terjadi karena merusak sendi-sendi demokrasi. Politik transaksional hanya akan melahirkan pemimpin/legislator yang tidak kompeten, tidak amanah dan tidak bakal memperjuangkan kepentingan rakyat setelah yang bersangkutan menjabat," ingatnya.

     

    Bergandengan Tangan Menolak Perangkap Transaksional

     

    Oleh sebab itu, semenjak dini, Rinawati mengajak masyarakat Sumut dan rakyat Indonesia untuk bergandengan tangan menolak pengaruh dan perangkap pemikiran sesat transaksional menjelang Pemilu apapun. Tapi fokus mengenali bobot Caleg, calon pemimpin daerah atau calon pemimpin nasional yang bakal dipilih nantinya. Lalu, pernahkah Anda mendengar langsung masyarakat meminta uang dengan alasan imbalan pembelian suara? Rinawati justru tersenyum kecil. Sembari memperbaiki cara duduk, dia pun tidak menepis fakta miris tersebut. Bagi Rinawati, tidak sedikit warga di beberapa daerah tertentu yang dengan terus terang berjanji padanya bisa mengumpulkan suara namun selanjutnya meminta imbalan uang. Rinawati berkeyakinan, memasuki Pileg 9 April 2014 dan Pilpres sekira bulan Juli 2014, masyarakat patut mulai jeli mengenali bibit, bebet dan bobot para Caleg secara detail. Rakyat yang saat ini masih saja tidak percaya diimbaunya bersikap tegas dengan cara menjaga iklim demokrasi. Kemudian berupaya keras mencari tahu latar belakang seorang Caleg/calon pemimpin serta menolak perangkap sesaat kelompok elite yang mengarahkan politik transaksional. "Mari kita jaga marwah dan roh demokrasi. Pilihlah orang yang amanah, kompeten dan diyakini bisa memperbaiki kesejahteraan rakyat. Jangan mau dibeli karena kelak kita yang akan dijualnya saat menjabat," tutup Rinawati diakhir percakapan, tetap dengan semangat yang mempesona. Selamat berjuang ibu legislator..! (Budiman Pardede/IKLAN PROFILE PARIWARA)

     

    Keterangan Foto: 1. Kartu Caleg Rinawati Sianturi (cover utama). 2. Rinawati Sianturi saat menjadi Juru Bicara Fraksi PPRN dalam Sidang Paripurna DPRDSU. 3 dan 4. Rinawati Sianturi di ruang kerjanya saat diwawancarai MartabeSumut, belum lama ini di gedung DPRDSU. (Foto-foto: dokumentasi MartabeSumut).

    Foto Lainnya

    Komentar

    Hisar Pardede - pardedehisar@gmail.com - Siantar
    Caleg incumben masih dibutuhkan karena pengalaman namun konstituen masih ragu, karena kinerja DPRDSU belum maksimal buktinya sampai saat ini PT Aqua Farm Nusantara di Kabupaten Simalungun perlu dipertanyakan keberadaannya, masalah penegakan hukum terhadap Reynaldo Sihombing pua janda Ny Sihombing Br Sidabutar warga perluasan, Siantar dan saat ini permohonan Ibu Kartini Sitompul pui Alm Gustaf Sitompul pemilik mesin uang ORI (Oeang Republik Indonesia) berharap dibangunkan monumen/tugu buat ayahnya belum jadi karena DPRD Sumut tak serius dan fokus...masalah lain wah masih banyak... jadi "Karya nyata perlu serius, karena perlu dewan yang vokal dan berani membuktikannya bukan sebatas gaya & karya kata"
    Kirim Komentar Anda
     
    Nama :
    Kota :
    Email :
    Komentar :
       
     

     
    (Masukkan 6 kode di atas)

     

       
     


    Memahami UU PERS Nomor 40 tahun 1999

    Akhir-akhir ini banyak kalangan internal (pegiat, organisasi profesi/perusahaan) PERS maupun pihak eksternal (masyarakat/narasumber) yang keliru dan main hakim sendiri saat menilai kinerja PERS.

    3 Media Penyebab Timbulnya Jerawat

    Banyak orang tak menyangka bahwa selain debu yang kerap melekat dalam kulit, ternyata ada 3 media (barang-barang) yang selalu kita pakai dan berisiko menimbulkan jerawat.

    MARTABE SUMUT

  • HOME
  • MARTABE TERPANAS
  • KELILING MEDAN
  • YA AKU MENGATAKANNYA
  • NGINTIP DPRDSU
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
  • SOSOK MARTABE
  • DAERAH
  • INDEX BERITA
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER