Sabtu

17 Nov 2018

Pengunjung Hari Ini : 383,   Bulan Ini : 56.191
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER
  • Minggu, 4 November 2018 | 12:07 WIB

    Telah dibaca 109 kali

    Dosen USU Sebut Lingkungan yang Didiami Manusia & Dikelola Perusahaan Bukan Hidup tapi Mati

    Budiman Pardede
    Komisi D DPRDSU memggelar RDP membahas limbah industri perusahaan Pabrik Kelapa Sawit (PKS), Selasa kemarin di gedung Dewan Jalan Imam Bonjol Medan. (Foto: www.MartabeSumut.com)

    www.MartabeSumut.com, Medan

     

    Ada yang menarik saat Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara (DPRDSU) menggelar RDP bersama Kadis LH Labura Imam A Harahap, Manager Tim Legal/Bina Lingkungan Udin Syariffuddin dan Manager EHS/Lingkungan Martin dari PKS PT Merbau Jaya Indah Raya serta Asisten Quality Control Hotmaida Silalahi mewakili PKS PT Torganda pabrik Tahuan Ganda Desa Aek Korsik, Selasa kemarin di gedung Dewan Jalan Imam Bonjol Medan. Bukan apa-apa, salah satu Dosen USU Medan, Aren, menyatakan dengan lantang bahwa lingkungan yang didiami manusia dan dikelola pemerintah/perusahaan saat ini bukan lagi lingkungan hidup melainkan lingkungan mati.

     

    Menurut Aren, terasa ganjil mendengar nama Dinas Lingkungan Hidup sebab yang dilihat dan dirasakan umat manusia sekarang adalah situasi lingkungan mati. "Harusnya objek kita lingkungan hidup. Kenapa lingkungan mati ? Karena parameter yang kita pakai bersifat abiotik dan tidak biotik. Kalau namanya bio, maka indikatornya kualitas tanah, air dan tumbuh-tumbuhan. Umumnya telah mati," cetus Aren. Tenaga ahli perusahaan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Labura, Labusel dan Riau itu mengaku dosen F-MIPA USU Medan dan sejak 1990 sudah aktif meneliti lingkungan. "Tanah dan air sering kami teliti. Tolong setiap perusahaan serius memonitor lingkungan usahanya yang mengandalkan daya dukung lingkungan. Hampir tak ada lagi lingkungan hidup kecuali lingkungan mati," sindirnya. Kedepan, Aren mengajak pemerintah dan kalangan usaha untuk berfikir mewujudkan pencapaian tujuan perusahaan namun lingkungan hidup tetap terlindungi. "Pantaulah lingkungan hidup sekitar Anda. Bagaimana limbah pabriknya ? Lihat kondisi tanah, air dan tumbuhan di sekitar kita. Termasuk pihak Dinas Lingkungan Hidup. Jangan kaku dengan konsep menunggu kerusakan dulu. Semua pihak wajib memonitor serius supaya lingkungan tidak mati," tutup Aren mengingatkan.  

     

    Perusahaan Diingatkan Pantau Limbah

     

    Sementara itu, Kadis LH Kab Labura Imam A Harahap mengatakan, limbah cair memang sering berdampak pada jebolnya benteng sungai. Menyinggung penanganan limbah B3, Harahap mengaku melakukan uji setiap bulan termasuk limbah cair. "Langsung kami ambil sampel dari sungai atau IPaL perusahaan. Pengujian air sungai 1x3 bulan. Kita bawa semua ke laboratorium provinsi untuk diuji," ujarnya. Harahap memastikan, persoalan limbah B3 adalah urusan Kementerian. Tapi perusahaan selalu diingatkan agar memantau pihak ketiga tatkala mengangkat limbah B3. Setelah diangkat, katanya lagi, mungkin perusahaan transportir/pengumpul limbah melakukan penyimpangan. "Peran kami mengawasi. Kami memang gak jamin 100 persen perusahaan akan benar mengelola limbah. Boleh buang limbah ke sungai tapi harus sesuai PH standard baku mutu 6-9 yang sudah diatur," tutupnya. Pengamatan www.MartabeSumut.com, usai para pihak terkait bicara, pimpinan RDP yang juga Wakil Ketua Komisi D DPRDSU H Fahrizal Efendi Nasution, SH, tampak serius mengimbau seluruh perusahaan PKS di Kab Labura, Labuhan Batu dan penjuru Sumut agar tidak main-main mengurusi limbah pabrik masing-masing. "Bisa muncul 3 masalah universal kalo kita meremehkan dampak buruk limbah industri. Misalnya persoalan kesehatan, keutuhan lingkungan serta kemanusiaan. Berakibat fatal bila penanganan limbah hanya sebatas formalitas," ingat politisi Partai Hanura tersebut.(MS/BUD)


     
     
    Kirim Komentar Anda
     
    Nama :
    Kota :
    Email :
    Komentar :
       
     

     
    (Masukkan 6 kode di atas)

     

       
     


    Memahami UU PERS Nomor 40 tahun 1999

    Akhir-akhir ini banyak kalangan internal (pegiat, organisasi profesi/perusahaan) PERS maupun pihak eksternal (masyarakat/narasumber) yang keliru dan main hakim sendiri saat menilai kinerja PERS.

    Melongok UU Lalu LIntas Nomor 22/2009

    Sampai saat ini pemakai sepeda motor/angkutan umum banyak keberatan/ memperdebatkan UU No 22/2009. Diantaranya pengemudi sepeda motor, yang diwajibkan menghidupkan lampu siang hari.

    3 Media Penyebab Timbulnya Jerawat

    Banyak orang tak menyangka bahwa selain debu yang kerap melekat dalam kulit, ternyata ada 3 media (barang-barang) yang selalu kita pakai dan berisiko menimbulkan jerawat.

    Seks Mau Meningkat, Makan Ikan !

    Anda mau sukses urusan seks? Segara konsumsi ikan ! Sebab ikan memberi banyak manfaat bagi kesehatan. Riset terbaru menunjukkan, nutrisi yang terkandung dalam ikan membantu menaikkan gairah seks pria.

    MARTABE SUMUT

  • HOME
  • MARTABE TERPANAS
  • KELILING MEDAN
  • YA AKU MENGATAKANNYA
  • NGINTIP DPRDSU
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
  • SOSOK MARTABE
  • DAERAH
  • INDEX BERITA
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER