Jumat

16 Nov 2018

Pengunjung Hari Ini : 2.880,   Bulan Ini : 54.740
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER
  • Sabtu, 23 Juni 2018 | 00:03 WIB

    Telah dibaca 436 kali

    Kisah Mistis Pasca-KM Sinar Bangun Tenggelam: Danau Toba itu "Berpenghuni", Jaga Kelakuan di Sana !

    Dekson H
    S Samosir alias Pak Cik, warga Medan asal Kab Samosir saat dikonfirmasi, Kamis malam (21/6/2018) di Medan. (Foto: www.MartabeSumut.com)

    S SAMOSIR (67), warga Medan asal Kab Samosir iba mengetahui musibah tragis KM Sinar Bangun yang tenggelam di perairan Danau Toba, Senin (18/6/2018) pukul 17.30 WIB. Dia pun membenarkan Danau Toba "berpenghuni" karena pernah mengalami langsung beberapa peristiwa gaib tatkala menyeberangi perairan yang dilingkupi 7 kab/kota Provinsi Sumut tersebut. Dengan kedalaman sekira 450 M, panjang 87 Km dan lebar 27 Km, Samosir mengingatkan berbagai pihak agar menjaga sikap/kelakuan bila berada di perairan Danau Toba.

    Kelakuan yang dimaksud Samosir ternyata beragam. Mulai dari sikap pamer memakai perhiasan mewah, suka bicara kotor, pesta mabuk-mabukan, aktivitas maksiat hingga membuang sampah ke Danau Toba. Pria yang akrab disapa Pakcik ini mengaku tidak terkejut mendengar pengakuan salah satu korban KM Sinar Bangun terkait sikap sebagian penumpang yang minum-minum tuak di dalam kapal saat berada di perairan Danau Toba. Menurut Pakcik, bukan mustahil hal-hal seperti itu yang memicu kemarahan "penghuni" Danau Toba. "Aku orang Samosir. Keluargaku banyak di Samosir. Aku udah mengalami sendiri kejadian ganjil akibat kekhilafanku," ungkap Pakcik kepada www.MartabeSumut.com, Kamis malam (21/6/2018) di kediamannya Jalan Pelajar Medan.

    Lima tahun lalu saat berkunjung ke Kab Samosir, singkap Pakcik, dirinya khilaf memakai perhiasan kalung emas dan beberapa cincin berlian di jari-jari. Waktu itu kegiatan Pakcik cuma mencuci mobil di bibir Pantai Tapian Nauli Desa Sitinjak Kec Onan Runggu Kab Samosir. Ketika mencuci mobil pukul 4 sore dan selesai pukul 5 sore, Pakcik baru sadar kehilangan kalung emas seberat 15 Gram dari lehernya. Padahal ikatan rantai kalung kuat dan diyakininya tidak mungkin lepas apalagi jatuh sendiri dari leher. Pakcik pun berusaha mencari kalung ditemani beberapa warga setempat. Hasilnya sia-sia. Yang terlihat cuma pasir putih pada kedalaman air setinggi dengkul orang dewasa. Besoknya Pakcik menyewa sampan kecil untuk mencari kalung. Lagi-lagi tidak membuahkan hasil. "Aku langsung "Martonggo" (acara adat kecil) di bibir pantai. Aku berdiri menghadap pantai (Danau Toba) sambil berbicara sendiri," kenangnya. Menurut Pakcik, pembicaraannya saat "Martonggo" bertujuan meminta maaf kepada "Namboru penghuni" Danau Toba. "Namboru, bukan maksudku sombong memakai rantai dan cincin emas. Aku minta maaf," beber Pakcik, mengulangi kata-katanya 5 tahun silam. Nah, selesai "Martonggo" atau 15 menit kemudian, tiba-tiba tatapan Pakcik terkesiap pada pemandangan berjarak 1 Meter dari tempatnya berdiri. Rantai kalung emas tergeletak di atas pasir putih persis didekatnya. "Aku pungut dari dalam air. Benar memang kalungku. Tapi anehnya, gak ada ikatan rantai yang lepas atau rusak. Kalungku masih tetap utuh. Lalu kenapa bisa raib dari leher saya, kan gak masuk nalar kita lagi," cetus Pakcik tak habis fikir, sembari menambahkan, keesokan hari langsung menjual kalung itu sebab pada malamnya dapat mimpi kalung emas berubah jadi abu.

    Kapal Hidup-Mati di Danau Toba

    Kisah ganjil lain dialami Pakcik tahun 2014. Kala itu dia berangkat bersama istri Tengku Nursima untuk menghadiri pembangunan Tugu Samosir di Onan Runggu. Anehnya, kapal yang ditumpangi Pakcik bersama 300 penumpang dari Ajibata ke Onan Runggu, justru hidup-mati saat melintasi perairan Danau Toba. "Tak tahu sebabnya, mesin kapal kayu mati mendadak di tengah danau. Lalu hidup dan mati lagi. Ombak sangat besar. Terakhir mesin kapal mati selama 3 jam. Kapal kami terombang-ambing dibawa air ke daerah Sipanganlombu. Nakhoda bingung, karena setelah meain diperiksa tak ada masalah. Aku dan istri sudah membayangkan kapal tenggelam," ucapnya lirih. Namun setelah sebagian penumpang turun di Sipanganlombu, mesin kapal disebut Pakcik hidup lagi hingga sampai ke Onan Runggu sekira 30 menit. "Kapal yang kami tumpangi macam KM Sinar Bangun yang tenggelam itu. Dari awal aku sudah dengar banyak penumpang suka cakap-cakap kotor seenaknya. Bahkan ada pasangan muda-mudi bersikap kurang wajar di depan penumpang lain. Aku yakin gara-gara merekalah kapal kami diperingati "Namboru" penghuni Danau Toba," ujar Pakcik.

    Pakcik menjelaskan, lokasi musibah KM Sinar Bangun rute Simanindo Kab Samosir menuju Tiga Ras Kab Simalungun adalah kawasan Tao Silalahi yang banyak dihuni keturunan marga Silahi Sabungan. Bila melintas di sana, orang yang punya indera keenam disebut Pakcik akan mampu melihat perempuan cantik boru Silalahi mandi-mandi di tengah Danau Toba. "Dialah penjaga kawasan itu. Gak semua orang bisa melihatnya. Tapi dari atas kapal ada yang pernah melihat seorang perempuan mandi-mandi di tengah Danau Toba. Kok bisa perempuan mandi ditengah Danau Toba ? Kan aneh," tegas Pakcik. Bagi dia, keindahan Danau Toba merupakan kebanggaan tersendiri untuk warga Sumut khususnya masyarakat Kab Tobasa, Kab Samosir, Kab Taput, Kab Humbahas, Kab Simalungun, Kab Dairi dan Kab Tanah Karo. Intinya, semua pihak yang kebetulan sedang naik kapal di perairan Danau Toba disarankan Pakcik jangan suka bicara kotor, tidak berbuat maksiat, tidak pamer perhiasan mewah, tidak pesta mabuk-mabukan, menjaga kelakuan serta tidak membuang sampah sembarangan. "Saya ingatkan, ada penghuni Danau Toba. Jangan bersikap aneh-aneh saat menyeberangi Danau Toba. Percaya atau tidak, terserah masing-masing," tutup suami dari Kepling VI Kel Teladan Timur Kec Medan Kota ini. (MS/DEKS)


     
     
    Kirim Komentar Anda
     
    Nama :
    Kota :
    Email :
    Komentar :
       
     

     
    (Masukkan 6 kode di atas)

     

       
     


    Memahami UU PERS Nomor 40 tahun 1999

    Akhir-akhir ini banyak kalangan internal (pegiat, organisasi profesi/perusahaan) PERS maupun pihak eksternal (masyarakat/narasumber) yang keliru dan main hakim sendiri saat menilai kinerja PERS.

    Melongok UU Lalu LIntas Nomor 22/2009

    Sampai saat ini pemakai sepeda motor/angkutan umum banyak keberatan/ memperdebatkan UU No 22/2009. Diantaranya pengemudi sepeda motor, yang diwajibkan menghidupkan lampu siang hari.

    3 Media Penyebab Timbulnya Jerawat

    Banyak orang tak menyangka bahwa selain debu yang kerap melekat dalam kulit, ternyata ada 3 media (barang-barang) yang selalu kita pakai dan berisiko menimbulkan jerawat.

    Seks Mau Meningkat, Makan Ikan !

    Anda mau sukses urusan seks? Segara konsumsi ikan ! Sebab ikan memberi banyak manfaat bagi kesehatan. Riset terbaru menunjukkan, nutrisi yang terkandung dalam ikan membantu menaikkan gairah seks pria.

    MARTABE SUMUT

  • HOME
  • MARTABE TERPANAS
  • KELILING MEDAN
  • YA AKU MENGATAKANNYA
  • NGINTIP DPRDSU
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
  • SOSOK MARTABE
  • DAERAH
  • INDEX BERITA
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER