Jumat

21 Sep 2018

Pengunjung Hari Ini : 320,   Bulan Ini : 52.648
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER
  • Rabu, 2 November 2016 | 00:02 WIB

    Telah dibaca 1141 kali

    Kasa Tinggal di Perut Bocah, DPRDSU Minta Poldasu Usut Dugaan Mala Praktik RS Columbia Asia Medan

    Budiman Pardede
    Atas: Sarma Hutajulu (kiri), Ferdinand/Joe (tengah) dan Eveready Sitorus. Bawah: dr Mahyono (kiri), kain kasa warna kuning di usus (tengah) dan dr Paulus. (fFoto : www.MartabeSumut.com)

    www.MartabeSumut.com, Medan

     

    Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara (DPRDSU) meminta Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu) mengusut serius dugaan mala praktik dokter di rumah sakit (RS) Columbia Asia Medan. Pasalnya, 1 kain kasa tertinggal dalam perut  Ferdinand, bocah usia 11 bulan, usai menjalani operasi pada 17 Desember 2015 silam.

    Permintaan tersebut merupakan rekomendasi yang dibacakan Ketua Komisi A DPRDSU Sarma Hutajulu, SH, tatkala memimpin RDP gabungan Komisi A dan E di gedung Dewan Jalan Imam Bonjol Medan, Selasa siang (1/11/2016). Selain itu, Sarma juga mengingatkan IDI Medan/Sumut memproses internal dugaan pelanggaran etika dan melaporkannya kepada Komisi A DPRDSU termasuk semua pihak terkait. Rekomendasi terakhir menyangkut peran Dinas Kesehatan Medan dan Sumut untuk melaporkan sejauh mana pengawasan/pembinaan fungsi sosial di rumah sakit karena selama ini didominasi kepentingan komersial. "Kalo dokter atau RS Columbia Asia ada kelalaian atau mala praktik, lebih baik akui saja. Kenapa bisa tinggal kain kasa dan apa itu terjadi saat operasi di RS Columbia Asia ? Pengakuan keluarga pasien, ditemukan kain kasa terttinggal di perut Ferdinand setelah operasi lanjutan di RS Siloam Medan," ujar politisi PDIP ini.

    Pantauan www.MartabeSumut.com sebelumnya dalam RDP, tampak hadir Joe (27) selaku orangtua pasien (Ferdinand), neneknya Ango (51), yang telah membeberkan kronologis di hadapan Dewan dan berbagai pihak. Kemudian dari RS Columbia Asia terlihat dr Mahyono, SpB, SpBA dan Medical Service Manager dr Erlinda. Hadir pula Direktur RS Siloam Medan dr Juniar Situmorang serta dr Paulus SpB. Lalu dr E Suhaemi dari IDI Medan, Roida Sitinjak mewakili Dinkes Medan, dr Edison Aritonang dari Dinkes Sumut serta Kasubdit Tipiter Poldasu AKBP Robin Simatupang. Dicecar Komisi A DPRDSU berulang-ulang, dr Mahyono, SpB, SpBA, menjelaskan awal mula menangani Ferdinand dan tetap menolak disebut mala praktik. "Saya tidak mengelak, membantah atau bela diri. Prosedur yang saya lakukan di RS Columbia Asia sesuai SOP. Tetap saya pertahankan kalau kain kasa tidak ada tertinggal. Tolong pihak RS Siloam jelaskan dimana posisi kain kasa ketika menangani pasien? Saya tidak meninggalkan kain kasa usai mengoperasi Ferdinand," tegas dr Mahyono, sembari menjelaskan, operasi dilaklukannya tanggal 17 Desember 2015 dan pasien pulang untuk rawat jalan pada 25 Desember 2015.

    RS Siloam Akui Keluarkan Kasa

     

    Sementara Direktur RS Siloam Medan dr Juniar Situmorang membenarkan pihaknya mengeluarkan kain kasa dari perut Ferdinand ketika keluarganya setuju dilakukan operasi kembali. "Benar kami terima pasien Ferdinand. Awalnya ditangani dr Lesmana, SpA lalu dioperasi oleh dr Paulus," kata dr Juniar. Dokter Paulus SpB menanggapi, dirinyalah yang mengeluarkan kain kasa dari perut Ferdinand: "Sudah hampir 6 bulan kain kasa di dalam usus. Semua benda asing dalam perut manusia pasti mengganggu kesehatan," yakinnya. Dokter E Suhaemi dari IDI Medan menyatakan, kasus RS Columbia Asia sedang dalam penanganan. Sebab dalam IDI ada dewan pertimbangan yang masuk majelis kehormatan. "Ini ranah profesi, IDI hanya melihat apakah ada pelanggaran etik atau tidak. Kami tunggu sidang Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI)," cetusnya. Pihak Dinkes Medan dan Sumut hanya bicara soal fungsi pengawasan dan pembinaan terhadap rumah sakit tanpa kewenangan memberi sanksi apapun. Kasubdit Tipiter Poldasu AKBP Robin Simatupang mengaku sudah menerima laporan pengaduan dari Joe selaku bapak Ferdinand pada tanggal 7 Agustus 2016. "Kita telah emeriksa beberapa saksi dari RS Columbia Asia, RS Siloam, orangtua pasien dan Kadis Kesehatan Medan, sekaligus menyita beberapa barang bukti," singkap AKBP Robin Simatupang. Menurut dia, Pasal yang diterapkan diantaranya: UU No 29/2004 Pasal 79 huruf c tentang praktik kdokteran Jo Pasal 20 ayat 1 huruf a - i Permenkes RI No 2052/MENKES/PER/X/2011 tentang izin praktik/pelaksanaan praktik kedokteran, dan atau Pasal 13 ayat 2 Jo Pasal 17 UU No 44/2009 tentang rumah sakit, dan atau Pasal 44 ayat 1 Jo Pasal 85 ayat 1 UU No 36/2014 tentang tenaga kesehatan, dan atau Pasal 46 ayat 1 Jo Pasal 86 ayat 1 UU No 36/2014 tentang tenaga kesehatan  serta Pasal 360 ayat 1 Jo Pasal 361 KUHP.

    Ferdinand Mulai Sehat

     

    Usai RDP, www.MartabeSumut.com mengkonfirmasi Joe, ayah dari Ferdinand. Sembari menggendong bocah kelahiran Medan 12 Januari 2015, www.MartabeSumut.com melihat Ferdinand tampak sehat, ceria dan riang. Joe juga menunjukkan kepada www.MartabeSumut.com beberapa garis besar bekas jahitan operasi di perut Ferdinand. Joe menjelaskan, anaknya Ferdinand sempat kritis di ICU RS Murni Teguh Medan selama 2 minggu akibat pendarahan. "Satu hari keluar dari RS Columbia Asia, Ferdinand langsung sakit. Kita bawa ke RS Murni Teguh Medan dan akhirnya menjalani operasi ulang di RS Siloam. Kondisinya kian membaik sejak kain kasa dikeluarkan dari perutnya," terang Joe, warga Jalan Sidorukun Medan. Menanggapi RDP gabungan Komisi A dan E DPRDSU itu, anggota Komisi E DPRDSU Eveready Sitorus mengaku prihatin atas derita yang dialami Ferdinand. "Kedepan tolong dokter harus lebih berhati-hati melakukan tindakan medis kepada pasien," ingatnya kepada www.MartabeSumut.com di gedung Dewan. Politisi Gerindra ini pun menggugah dokter, manajemen rumah sakit dan semua tenaga kesehatan agar memaksimalkan fungsi sosial kemanusiaan saat melakukan praktik. Buruknya pelayanaan kesehatan di Indonesia sekarang, kata Eveready, membuat kepercayaan masyarakat rendah kepada tenaga medis dan institusi rumah sakit. "Kenapa 70 persen warga Indonesia berobat ke Penang Malaysia? Apakah karena ilmu, fasilitas atau pelayanan buruk," sindir Eveready. (MS/BUD)


     
     
    Kirim Komentar Anda
     
    Nama :
    Kota :
    Email :
    Komentar :
       
     

     
    (Masukkan 6 kode di atas)

     

       
     


    Memahami UU PERS Nomor 40 tahun 1999

    Akhir-akhir ini banyak kalangan internal (pegiat, organisasi profesi/perusahaan) PERS maupun pihak eksternal (masyarakat/narasumber) yang keliru dan main hakim sendiri saat menilai kinerja PERS.

    Melongok UU Lalu LIntas Nomor 22/2009

    Sampai saat ini pemakai sepeda motor/angkutan umum banyak keberatan/ memperdebatkan UU No 22/2009. Diantaranya pengemudi sepeda motor, yang diwajibkan menghidupkan lampu siang hari.

    3 Media Penyebab Timbulnya Jerawat

    Banyak orang tak menyangka bahwa selain debu yang kerap melekat dalam kulit, ternyata ada 3 media (barang-barang) yang selalu kita pakai dan berisiko menimbulkan jerawat.

    Seks Mau Meningkat, Makan Ikan !

    Anda mau sukses urusan seks? Segara konsumsi ikan ! Sebab ikan memberi banyak manfaat bagi kesehatan. Riset terbaru menunjukkan, nutrisi yang terkandung dalam ikan membantu menaikkan gairah seks pria.

    MARTABE SUMUT

  • HOME
  • MARTABE TERPANAS
  • KELILING MEDAN
  • YA AKU MENGATAKANNYA
  • NGINTIP DPRDSU
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
  • SOSOK MARTABE
  • DAERAH
  • INDEX BERITA
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER