Senin

22 Apr 2019

  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER
  • Jumat, 16 September 2016 | 00:04 WIB

    Telah dibaca 828 kali

    MPR Helvetia Medan Tuntut Relokasi, Gedung DPRDSU Didemo Bocah SD & SMP

    Budiman Pardede
    Massa FK-MPR menghadirkan sedikitnya 50-an bocah SD dan SMP saat unjukrasa ke gedung DPRDSU di Jalan Imam Bonjol Medan, Kamis siang (15/9/2016). (Foto: www.MartabeSumut.com)

    www.MartabeSumut.com, Medan

     

    Ratusan orang berbendera Forum Komunikasi Masyarakat Pinggir Rel (FK MPR) yang tinggal di tepi rel kereta api Jalan Asrama Helvetia Medan berunjukrasa ke gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara (DPRDSU) Jalan Imam Bonjol Medan, Kamis siang (15/9/2016). Menariknya, terlihat 50-an bocah berpakaian SD dan SMP ikut demonstrasi seraya memajang spanduk serta karton-karton protes.

    Pantauan www.MartabeSumut.com, massa mendatangi DPRDSU pukul 11.00 WIB. Kehadiran demonstran langsung disikapi aparat kepolisian dengan menutup total ruas Jalan Imam Bonjol depan gedung Dewan dan mengalihkan arus lalulintas ke Jalan Maulana Lubis. Pengunjukrasa yang didominasi ibu-ibu dan bocah berpakaian SD/SMP pun berkumpul di ruas jalan seraya mendengar orasi beberapa pimpinan massa. "Batalkan penggusuran daerah sepanjang rel kereta api yang dilakukan PT KAI tanpa relokasi warga. Pemprovsu, Pemko Medan dan DPRDSU harus turun tangan membantu rakyat yang akan digusur. Kami desak pemerintahan Jokowi-JK peduli nasib rakyat kecil," teriak seorang pengunjukrasa dalam orasinya, sembari meminta TNI, Polri, Satpol PP dan aparat terkait lainnya menghentikan intimidasi kepada masyarakat pinggir rel. Selang beberapa menit kemudian, Humas DPRDSU Rospita Pandiangan, SE menerima 5 perwakian massa. Selanjutnya membawa demonstran ke Sekretariat DPRDSU untuk mengirimkan faksimile aspirasi kepada Presiden RI, DPR RI dan Setneg di Jakarta. Rospita juga mengajak perwakilan massa ke ruang Banmus menemui seorang anggota DPRDSU. Puas beraksi, demonstran membubarkan diri pukul 12.05 WIB dan berencana melanjutkan aksi ke kantor Gubsu di Jalan Diponegoro Medan.


    Penggusuran Setahun Lalu


    Data www.MartabeSumut.com, sejak digusur 2 September 2015 silam, ada 14 rumah dan 50 orang warga tepi rel yang hidup terkatung-katung. Sementara total rumah yang digusur mencapai 150 dengan jumlah 500 jiwa. Di atas rumah warga terdapat perumahan Bumi Asri yang disebut-sebut berhubungan dengan kepentingan pihak Kodam I BB. Lucunya lagi, penggusuran dilakukan tatkala warga sudah tinggal di sana 5-10 tahun tanpa alas hak sebab lahan memang milik PT KAI. "Kalau mau menormalisasi Sungai Bedera, ya harus dari hilir dan hulu. Jangan karena kepentingan Kodam I BB atau Bumi Asri kami yang digusur tidak diberi relokasi," sesal perwakilan warga pinggir rel Sahat Sianturi dan Romson Purba, dalam forum RDP Komisi A DPRDSU pada Selasa siang (22/9/2015) silam di gedung Dewan Jalan Imam Bonjol Medan. Pihak Kodam I BB dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divre I Sumatera Utara tidak menghadiri undangan kecuali Camat Medan Helvetia Edi Mulia Matondang serta Kadis PSDA Sumut Dinsyah. Kala itu, Romson Purba mengungkapkan, sejak 28 Agustus 2015 Lurah Tanjung Gusta Medan mengirim surat penggusuran kepada puluhan warga dengan dalih menormalisasi sungai Bedera. "Kami yakin penggusuran ini titipan orang berkuasa, keinginan yang punya uang hingga aksi barbar tidak manusiawi. Stop perusakan dan penggusuran warga dengan dalih normalisasi Sungai Bedera," cetus Romson. Oleh sebab itu, lanjut Romson, pihaknya menuntut ganti rugi moril/materil atas kerusakan puluhan rumah. Kemudian pencopotan Pangdam I BB karena dianggap mengurusi pekerjaan bukan bidangnya dan penghentian aksi-aksi penekanan warga melalui oknum tentara, aparat Satpol PP, oknum kelurahan bahkan pihak Kecamatan Medan Helvetia.

    Sementara Kadis PSDA Sumut Dinsyah mengungkapkan, mengacu aturan pemerintah soal sempadan sungai Nomor 5 tahun 1995, maka bila kedalaman sungai lebih 3 Meter, sempadan sungai wajib 15 Meter. Sejak tahun 1985, terang Dinsyah, Kota Medan telah menata sungai-sungai untuk mengendalikan banjir. "Semua Ini akibat kelalaian. Hanya Sungai Bedera yang belum dinormalisasi. Terjadi penyempitan sungai. Sungai Sikambing dan Sungai Putih sudah dinormalisasi. Sekarang sungai-sungai hilang karena telah berada di bawah rumah warga. Sungai Bedera muaranya ke Sungai Belawan. Tinggal Sungai Bedera yang belum bisa disempurnakan. Sungai Denai di Amplas, Sungai Kra di Moh Yamin, Sungai Babura, Sungai Deli, Sungai Putih dan lainnya telah dibenahi sejak tahun 1985," singkap Dinsyah, sembari menambahkan, durasi hujan 1 jam saja Medan langsung banjir. "Kemana arah drainase itu semua?  Tahun 1980 - 1995 bagian kiri-kanan Sungai Bedera sudah dibebaskan. Sekarang ini tidak ada kegiatan PSDA Sumut untuk Sungai Bedera," timpalnya lagi.

    Penyempitan Sungai Bedera

    Sedangkan Camat Medan Helvetia Eddy Matondang berkeyakinan, dari Jalan Gatot Subroto Medan - area Kab Deli Serdang ditemukan penyempitan Sungai Bedera. Badan sungai selebar 4 Meter menyusut jadi 2 Meter. Menurut Matondang, di sepanjang Sungai Bedera akan dilakukan pembongkaran. "Saya bongkar walau belum diganti rugi atau sudah. Saya terima keluhan ribuan warga di sekitar Sungai Bedera. Saya tidak tunggu ganti rugi. Dulu namanya sungai tapi sekarang parit," tegasnya. Soal warga di pinggiran rel, Matondang mengakui bukan kapasitas pihaknya. Namun normalisasi warga menjadi urusan tapi bukan pembongkaran. Sebagai Camat, Mantondang mengaku sangat tahu titik-titik banjir di Jalan Asrama Medan. "Yang kami lakukan kemarin pengerukan parit, bukan pembongkaran. Sebab banyak warga pada 4 kelurahan di sana seperti Cinta Damai, Tanjung Gusta, Dwikora dan Helvetia," ucapnya. Mendengar penjelasan Matondang, salah satu warga Sahat Sianturi langsung protes. "Bohong semua yang dibilang Camat yang gagah itu," teriaknya. Romson menambahkan, dari 100 yang dikatakan Camat Medan Helvetia Eddy Matondang, cuma 1 yang benar yaitu soal banjir saat hujan turun. (MS/BUD)

    Share this

     
     

    Berikan Komentar Anda 'MPR Helvetia Medan Tuntut Relokasi, Gedung DPRDSU Didemo Bocah SD & SMP'


    Memahami UU PERS Nomor 40 tahun 1999

    Akhir-akhir ini banyak kalangan internal (pegiat, organisasi profesi/perusahaan) PERS maupun pihak eksternal (masyarakat/narasumber) yang keliru dan main hakim sendiri saat menilai kinerja PERS.

    Melongok UU Lalu LIntas Nomor 22/2009

    Sampai saat ini pemakai sepeda motor/angkutan umum banyak keberatan/ memperdebatkan UU No 22/2009. Diantaranya pengemudi sepeda motor, yang diwajibkan menghidupkan lampu siang hari.

    3 Media Penyebab Timbulnya Jerawat

    Banyak orang tak menyangka bahwa selain debu yang kerap melekat dalam kulit, ternyata ada 3 media (barang-barang) yang selalu kita pakai dan berisiko menimbulkan jerawat.

    Seks Mau Meningkat, Makan Ikan !

    Anda mau sukses urusan seks? Segara konsumsi ikan ! Sebab ikan memberi banyak manfaat bagi kesehatan. Riset terbaru menunjukkan, nutrisi yang terkandung dalam ikan membantu menaikkan gairah seks pria.

    MARTABE SUMUT

  • HOME
  • MARTABE TERPANAS
  • KELILING MEDAN
  • YA AKU MENGATAKANNYA
  • NGINTIP DPRDSU
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
  • SOSOK MARTABE
  • DAERAH
  • INDEX BERITA
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER