Minggu

17 Feb 2019

  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER
  • Sabtu, 14 Mei 2016 | 00:05 WIB

    Telah dibaca 2748 kali

    Harga Ubi Kayu Fluktuatif di Sumut, Import Tepung Singkong Tinggi, DPRDSU: Kartel Bermain !

    Budiman Pardede
    Anggota Komisi E DPRDSU Janter Sirait, SE saat diwawancarai di MedanPRDSU Jalan Imam Bonjol Medan, Jumat siang (13/5/2016). (Foto: www.MartabeSumut.com)

    www.MartabeSumut.com, Medan

     

    Anggota Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara (DPRDSU) Janter Sirait, SE, kebingungan. Heran mengamati petani ubi kayu (singkong) di Kab Simalungun Provinsi Sumut yang mulai enggan membudidayakan ubi. Pasalnya, harga ubi kayu di pasaran bersifat fluktuatif sementara import produk turunannya seperti tepung singkong justru tinggi.

     

    Kepada www.MartabeSumut.com, Jumat siang (13/5/2016) di gedung Dewan Jalan Imam Bonjol Medan, legislator asal Dapil Sumut X Kab Simalungun dan Kota Pematang Siantar itu membeberkan, import tepung singkong pada tahun 2000 mencapai 7.600 ton. Lalu 10 tahun kemudian atau pada 2015 salah satu lembaga resmi menunjukkan data import tepung singkong sebesar 256.400 ton. "Kenapa produksi singkong di Indonesia turun setiap tahun sementara permintaan tepung singkong sebagai produk turunannya tinggi ? Ini kan aneh dan membuat petani ubi kayu tidak sejahtera ? Lihat saja tahun 2012 total produksi ubi di Indonesia mencapai 24,1 juta ton. Kemudian tahun 2015 turun jadi 22,9 juta ton," ungkapnya.

     

    Kartelisasi Permintaan

     

    Melihat fenomena tidak lajim tersebut, Janter pun meyakini kalau masyarakat petani ubi kayu di Kab Simalungun bahkan Provinsi Sumut ikut tidak bergairah. Bagi politisi Partai Golkar ini, kuat dugaan telah terjadi kartelisasi di sektor permintaan karena para pembeli dominan menentukan harga sepihak. Petani ubi dinilainya kurang berdaya menentukan harga kendati saat panen raya tiba. Sebab sortiran ubi juga dilakukan semena-mena oleh para pembeli/pemilik pabrik. "Kita minta pemerintah campur tangan mengatur dan menstabilkan channel of distribution (jaringan distribusi pasar-Red) termasuk mekanisme harga pasar. Tahun 2015 saja harga ubi kayu di Simalungun anjlok Rp. 1.050/Kg. Sekarang petani ubi kayu di Simalungun dan pinggiran Siantar menjerit," ucapnya. Demi kesejahteraan rakyat Sumut, pemerintah disarankan Janter menelusuri berapa sesungguhnya kontribusi keuntungan dari ubi singkong saat dikelola jadi bahan baku tepung singkong, untuk selanjutnya menganalisa harga pokok penjualan petani ubi ke pabrik hingga sampai di pasar. (MS/BUD)

    Share this

     
     

    Berikan Komentar Anda 'Harga Ubi Kayu Fluktuatif di Sumut, Import Tepung Singkong Tinggi, DPRDSU: Kartel Bermain !'


    Memahami UU PERS Nomor 40 tahun 1999

    Akhir-akhir ini banyak kalangan internal (pegiat, organisasi profesi/perusahaan) PERS maupun pihak eksternal (masyarakat/narasumber) yang keliru dan main hakim sendiri saat menilai kinerja PERS.

    Melongok UU Lalu LIntas Nomor 22/2009

    Sampai saat ini pemakai sepeda motor/angkutan umum banyak keberatan/ memperdebatkan UU No 22/2009. Diantaranya pengemudi sepeda motor, yang diwajibkan menghidupkan lampu siang hari.

    3 Media Penyebab Timbulnya Jerawat

    Banyak orang tak menyangka bahwa selain debu yang kerap melekat dalam kulit, ternyata ada 3 media (barang-barang) yang selalu kita pakai dan berisiko menimbulkan jerawat.

    Seks Mau Meningkat, Makan Ikan !

    Anda mau sukses urusan seks? Segara konsumsi ikan ! Sebab ikan memberi banyak manfaat bagi kesehatan. Riset terbaru menunjukkan, nutrisi yang terkandung dalam ikan membantu menaikkan gairah seks pria.

    MARTABE SUMUT

  • HOME
  • MARTABE TERPANAS
  • KELILING MEDAN
  • YA AKU MENGATAKANNYA
  • NGINTIP DPRDSU
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
  • SOSOK MARTABE
  • DAERAH
  • INDEX BERITA
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER