Senin

27 Mei 2019

  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER
  • Rabu, 6 Juni 2012 | 20:03 WIB

    Telah dibaca 1469 kali

    Rumah Tani Indonesia Kutuk Kebrutalan Polisi Terhadap Petani di Padang Halaban Labuhan Batu

    Grevin

    MartabeSumut, Medan

     

    Direktur Eksekutf Rumah Tani Indonesia (RTI) Jones Batara Manurung mengeluarkan pernyataan Pers kepada MartabeSumut, Rabu (6/6), terkait kekerasan polisi terhadap petani di Padang Halaban Labuhan Batu Sumatera Utara. RTI disebutnya mengutuk keras aksi brutal kepolisian kepada petani di Padang Halaban, Labuhanbatu Sumatera Utara pada hari Minggu 03 Juni 2012. Berikut petikan pernyataan lengkapnya:

     

    Aparat Kepolisian kembali mempertontonkan aksi brutalnya terhadap rakyat yang seharusnya dilindungi dan diayomi. Aksi brutal dan kekerasan yang dilakukan polisi adalah berupa pemukulan, penembakan sampai pada penangkapan dengan sewenang-wenang tanpa menunjukkan surat perintah penangkapan sebagaimana disyaratkan Hukum Acara Pidana sebagaimana dimaksud dalam UU. No. 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana. Peristiwa diawali dari terbakarnya pos penjagaan PT. Smart, anak perusahaan dari Sinar Mas Group, pada hari Minggu tanggal 3 Juni 2012, sekira pukul 22.00 WIB. Dimana lokasi kejadian sangat berdekatan dengan lokasi lahan petani. Setelah terjadi kebakaran, ratusan polisi datang ke lokasi dan sekitar tanah yang diduduki petani. Kemudian polisi tiba-tiba melakukan aksi penangkapan 3 orang petani yang sedang duduk di warung. Dengan kejadian ini, para petani marah sehingga memprotes keras penangkapan yang sewenang-wenang aparat. Begitu warga mendekati lokasi, seorang anggota polisi tanpa seragam resmi meminta warga untuk tidak mendekat. Karena warga terus merengsek, Polisi tersebut mengacungkan pistol dan menembakkannya. Akibat dari penembakan polisi inilah seorang petani bernama Sumanto, 18 tahun, mengalami luka tembak robek di betis kaki sebelah kiri. Sedangkan korban pemukulan bernama Adi Suma, Sum alias Sumbing dan Suma. Ketiganya juga ditangkap oleh polisi.

     

    Negara Dikendalikan Pemilik Modal

     

    Fakta kejadian tersebut membuktikan negara Indonesia telah dikendalikan oleh para pemilik modal. Kekerasasan polisi sebagaimana diuraikan di atas menunjukkan bahwa polisi merupakan alat dari pemilik modal (pengusaha) demi meraup kepentingan ekonomi investor seperti PT. Smart, anak perusahaan dari Sinar Mas Group. Padahal tugas dan fungsi polisi adalah sebagai penegak hukum, pelindung, pengayom masyarakat dan penjaga ketertiban masyarakat berdasarkan Undang-Undang. No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Rumah Tani Indonesia menilai Negara dikendalikan pemilik modal. Negara dalam hal ini pemerintah, tidak lagi berperan menentukan arah kebijakakan khususnya kebijakan ekonomi. Bahwa kesewenang-wenangan aparat kepolisian terhadap petani di Padang Halaban, Labuhanbatu, sebenarnya sudah sering terjadi. Itu bisa dibuktikan dengan keterlibatan anggota kepolisian dan anggota TNI/ Koramil dalam sengketa tanah antara Kelompok Tani Padang Halaban Sekitarnya(KTPH-S) Kec. Aek Kuo Kabupaten Labuhan Batu, Provinsi Sumatera Utara dengan PT. Smart Tbk Kebun Padang Halaban. Ada sekira 3.000 Hektare lahan sengketa yang dikuasai PT. Smarts Tbk Kebun Padang Halaban, dan kerap menimbulkan dampak negatif dan tidak kondusifnya keamanan warga akibat kehadiran aparat kepolisian dan TNI/ Koramil di atas tanah yang berkonfilik.

     

    Lima Tuntutan

     

    Dengan melihat Kejadian sebagaiman diuraikan di atas, dengan ini kami Rumah Tani Indonesia (RTI) menyatakan sikap dan tutuntutan kepada Pimpinan Polri dan Pemerintah sebagai berikut : 1. Mengutuk dengan keras tindakkan kekerasan dan kebrutalan polisi kepada petani di Padang Halaban, Labuhan Batu, Sumatera Utara. 2. Meminta pemberian sanksi tegas kepada anggota kepolisian yang melakukan kekerasan terhadap petani Padang Halaban, Labuhanbatu, Sumatera Utara. 3. Melepaskan dan membebaskan para petani Padang halaban, Labuhanbatu yang dtangkap polisi secara sewenang-wenang. 4. Mengembalikan tugas dan fungsi polisi sebagai alat negara bukan 'senjata' pemilik modal (perusahaan) yang bertujuan menakut-nakuti masyarakat. Polisi harus menjadi penegak hukum, pelindung, pengayom masyarakat dan penjaga ketertiban masyarakat berdasarkan Undang-Undang. No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. 5. Menyelesaikan konflik lahan antara petani Padang Halaban dengan PT. Smart . Demikian Press Release ini kami sampaikan dengan sebenarnya demi mewujudkana keadilan dan kebenaran kepada petani Padang Halaban, Labuhanbatu, Sumatera Utara.  Jakarta, 5 Juni 2012, Hormat Kami Rumah Tani Indonesia.(MS/Rel/GREVIN)

    Share this

     
     

    Berikan Komentar Anda 'Rumah Tani Indonesia Kutuk Kebrutalan Polisi Terhadap Petani di Padang Halaban Labuhan Batu'


    Memahami UU PERS Nomor 40 tahun 1999

    Akhir-akhir ini banyak kalangan internal (pegiat, organisasi profesi/perusahaan) PERS maupun pihak eksternal (masyarakat/narasumber) yang keliru dan main hakim sendiri saat menilai kinerja PERS.

    Melongok UU Lalu LIntas Nomor 22/2009

    Sampai saat ini pemakai sepeda motor/angkutan umum banyak keberatan/ memperdebatkan UU No 22/2009. Diantaranya pengemudi sepeda motor, yang diwajibkan menghidupkan lampu siang hari.

    3 Media Penyebab Timbulnya Jerawat

    Banyak orang tak menyangka bahwa selain debu yang kerap melekat dalam kulit, ternyata ada 3 media (barang-barang) yang selalu kita pakai dan berisiko menimbulkan jerawat.

    Seks Mau Meningkat, Makan Ikan !

    Anda mau sukses urusan seks? Segara konsumsi ikan ! Sebab ikan memberi banyak manfaat bagi kesehatan. Riset terbaru menunjukkan, nutrisi yang terkandung dalam ikan membantu menaikkan gairah seks pria.

    MARTABE SUMUT

  • HOME
  • MARTABE TERPANAS
  • KELILING MEDAN
  • YA AKU MENGATAKANNYA
  • NGINTIP DPRDSU
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
  • SOSOK MARTABE
  • DAERAH
  • INDEX BERITA
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER