Kamis

21 Mar 2019

  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER
  • Selasa, 21 Juli 2015 | 00:05 WIB

    Telah dibaca 1582 kali

    Dr (Phil) Dharma Indra Siregar: PNS & Aparat Negara Masih Kompak Bermental Suap/Korup

    Budiman Pardede
    Dr (Philosofis) Dharma Indra Siregar saat diwawancarai MartabeSumut di Medan, Selasa siang (14/7/2015). (Foto: www.MartabeSumut.com).

    www.MartabeSumut.com, Medan

     

    Jajaran birokrasi, PNS, aparat, pejabat, birokrat dan penyelenggara pemerintahan di pusat/daerah masih kompak bermental suap/korup. Kendati ada 1-2 yang tidak kompak, tapi umumnya bisa dibuktikan dari kasus sederhana semisal pengurusan KTP di kantor Kelurahan. Mental suap dan korup yang kompak nyata menjadi pembusukan budaya yang  berimplikasi pada penelantaran pelayanan rakyat.

     

    Kritik pedas tersebut dilontarkan pemerhati sosial politik Nasional asal Sumatera Utara (Sumut) Dr (Phil) Dharma Indra Siregar (78), menyahuti konfirmasi www.MartabeSumut.com seputar imbauan pelarangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI terkait pemberian/penerimaan THR/gratifikasi hari besar keagamaan serta Operasi Tangkap Tangan (OTT) 3 hakim PTUN Medan, 1 pengacara dan 1 Panitera pada Kamis (9/7/2015) di Medan. Berbicara kepada www.MartabeSumut.com di Medan, Selasa siang (14/7/2015), Dr (Phil) Dharma menilai, pelarangan KPK sebenarnya mengindikasikan fakta miris kalau sampai saat ini jajaran PNS dan aparat Negara masih kompak bermental suap/korup kendati sebagian institusi sudah diberi dana remunerasi. "Larangan KPK tersebut tidak sepatutnya keluar. Tapi mau apa lagi? Dibuat saja larangan, toh para hakim yang sudah dapat dana remunerasi tetap suka minta disuap," sindirnya. Oleh sebab itu, lanjut Dr (Phil) Dharma, pembusukan budaya suap dan korup sebaiknya dipupus bersama dengan semangat pelayanan rakyat serta good governance (pemerintahan bersih-Red). Kalau mental melayani rakyat dilakukan dengan tulus/iklas, Dr (Phil) Dharma percaya iklim pemerintahan di Indonesia bakal berjalan baik, sehat dan berintegritas

     

    KPK Periksa Gubsu 22 Juli 2015

     

    Menyinggung pemeriksaan Gubsu Gatot Pujo Nugroho yang dijadwalkan KPK 22 Juli 2015 pasca-penetapan pengacara kondang OC Kaligis sebagai tersangka kasus korupsi, Selasa (14/7/2015), Dr (Phil) Dharma menilai disebabkan rentetan peristiwa ganjil yang terjadi di Sumut sejak Juni-Juli 2015. Diantaranya; Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI memberi penilaian Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan Keuangan (LHPK) APBD Sumut 2014 pada Jumat 12 Juni 2015 disela-sela protes keras rakyat Sumut akibat beragam indikasi penyimpangan keuangan negara. Disusul OTT KPK RI terhadap 3 hakim, 1 Panitera PTUN Medan dan 1 pengacara pada Kamis 9 Juli 2015, permintaan KPK kepada Dirjen Imigrasi untuk mencekal Gubsu Gatot Pujo Nugroho pada Jumat 10 Juli 2015 hingga penggeledahan KPK ke kantor Gubsu di Jalan Diponegoro Medan pada Sabtu malam 11 Juli 2015. 

     

    Masalah Kepemimpinan & Korupsi

     

    Menurut Dr (Phil) Dharma, dari sisi keilmuan philosofis, maka apa yang dialami Gatot selaku Gubernur sekira 12 juta rakyat Sumut, sebenarnya tidak terlepas dari 1 persoalan inti yang melibatkan kepemimpinannya, yaitu korupsi. Praduga tak bersalah dipastikan Dr (Phil) Dharma patut diposisikan sebagai pijakan awal proses hukum, namun di sisi lain asas praduga bersalah juga jadi pegangan kuat bagi kalangan penegak hukum. "Mungkin saja rumor penahanan itu benar. Karena selama Gatot saya kenal, dia tidak punya philosofis kepemimpinan sense of belonging Sumut (rasa memiliki Sumut-Red)," aku Dr (Phil) Dharma, sembari mengingatkan, philosofis adalah falsafah dalam diri seseorang yang tercermin dari perilaku. "Kehilangan harta benda adalah biasa, kehilangan anak-istri juga biasa. Sebab semuanya berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tapi kalau manusia kehilangan harga diri, maka kita tidak berharga atau bukan siapa-siapa," timpalnya lagi.


    Secara philosofis, psikologis dan falsafah perilaku kepemimpinan Gatot sebagai Gubsu, ungkap Dr (Phil) Dharma, hingga kini tidak diketahui persis seberapa besar kecintaan Gatot terhadap Provinsi Sumut. "Berapa persen sih diri Gatot cinta Sumut ? Kalo dia cinta Sumut, dia pasti tidak korupsi. Dia tidak boleh korupsi 1 sen pun uang rakyat untuk memperkaya diri, kroni-kroni atau kelompok tertentu," ucapnya. Tapi bila Gatot terbukti korupsi dan menyalahgunakan wewenang semisal program Bantuan Daerah Bawahan (BDB/BKP), Bantuan Sosial (Bansos), Bagi Hasil Pajak (BHP) atau sejenisnya, maka Dr (Phil) Dharma tidak ragu mengatakan bahwa Gatot bukanlah siapa-siapa lagi karena telah kehilangan harga diri bahkan kepercayaan 12 juta rakyat yang dipimpin.

     

    Opini WTP Bohong Besar


    Menyikapi opini WTP yang diberikan BPK RI kepada Gubsu/Pemprovsu beberapa waktu lalu, Dr (Phil) Dharma blak-blakan menyatakan bohong besar. Bagi dia, penilaian BPK itu sebatas melihat arus kas keluar-masuk, wajar atau tidak wajar pengeluaran, fiktif atau real dan pelaporan akuntansi secara administratif belaka. Dengan adanya temuan dan pelanggaran regulasi atas tata kelola keuangan, terang Dr (Phil) Dharma, seharusnya BPK melihat luas kedepan bahwa dibalik temuan maupun pelanggaran ada tersembunyi praktik negoisiasi, kolusi serta korupsi. "Tapi hak BPK deh dalam menilai. Yang pasti, WTP tersebut ibarat the singer but not the song (penyanyinya tapi bukan lagunya-Red)," cetus Dr (Phil) Dharma mantap.

     

    Apapun yang terjadi kelak kepada Gatot, imbuh Dr (Phil) Dharma lebih jauh, dirinya selalu jeli melihat sesuatu dari perspektif philosofis. Sebab rangkaian KPK melakukan OTT, penggeledahan dan permintaan pencekalan Gubsu Gatot Pujo Nugroho, itu diyakininya merupakan kiat KPK yang tidak sembarangan dalam memutuskan tindakan apalagi sampai pencekalan. Berarti, katanya lagi, patut diduga 99,99 persen sudah tersingkap data/fakta suap dan korupsi yang dialamatkan KPK kepada Gatot. Sehingga warga Sumut disarankannya tidak perlu heran bila melihat pembesar atau pejabat Sumut dipecat, ditahan, ditangkap bahkan dicekal penegak hukum kapan saja. "Ini kajian penilaian philisofis, akar dari semua disiplin ilmu. Gatot mungkin saja telah khianati ibunya, istrinya dan 12 juta rakyat Sumut. Kalo bukan karena Syamsul Arifin, tidak bakal ada yang kenal Gatot," ingatnya. Oleh karena Gatot tidak punya sense of belonging Sumut selama memimpin, secara pilosofis Dr (Phil) Dharma mengimbau Gatot agar siap-siap pasrah walau tak rela dalam mempertanggungjawabkan segala dugaan korupsi yang diributkan masyarakat Sumut kurun beberapa tahun terakhir. "Andai saja kita melihat pembesar dan pejabat, cukup bijak rasanya mengamati dulu falsafah hidupnya agar tahu arah fikir kepemimpinannya. Falsafah hidup Gatot yang saya kenal selama ini cuma memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Dari sisi philosofis, psikologis dan politik dia sdh gagal. Kalo mantan Gubsu Syamsul Arifin tidak begitu dulunya memimpin," tutup Dr (Phil) Dharma, sembari mengajak semua aparat, pejabat, pembesar di Indonesia untuk merenungkan kalimat philosofis : how green your country, how rich your country but how poor your country? (betapa indah negerimu, betapa kaya negerimu tapi betapa miskin rakyatmu?). (MS/BUD)

    Share this

     
     

    Berikan Komentar Anda 'Dr (Phil) Dharma Indra Siregar: PNS & Aparat Negara Masih Kompak Bermental Suap/Korup'


    Memahami UU PERS Nomor 40 tahun 1999

    Akhir-akhir ini banyak kalangan internal (pegiat, organisasi profesi/perusahaan) PERS maupun pihak eksternal (masyarakat/narasumber) yang keliru dan main hakim sendiri saat menilai kinerja PERS.

    Melongok UU Lalu LIntas Nomor 22/2009

    Sampai saat ini pemakai sepeda motor/angkutan umum banyak keberatan/ memperdebatkan UU No 22/2009. Diantaranya pengemudi sepeda motor, yang diwajibkan menghidupkan lampu siang hari.

    3 Media Penyebab Timbulnya Jerawat

    Banyak orang tak menyangka bahwa selain debu yang kerap melekat dalam kulit, ternyata ada 3 media (barang-barang) yang selalu kita pakai dan berisiko menimbulkan jerawat.

    Seks Mau Meningkat, Makan Ikan !

    Anda mau sukses urusan seks? Segara konsumsi ikan ! Sebab ikan memberi banyak manfaat bagi kesehatan. Riset terbaru menunjukkan, nutrisi yang terkandung dalam ikan membantu menaikkan gairah seks pria.

    MARTABE SUMUT

  • HOME
  • MARTABE TERPANAS
  • KELILING MEDAN
  • YA AKU MENGATAKANNYA
  • NGINTIP DPRDSU
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
  • SOSOK MARTABE
  • DAERAH
  • INDEX BERITA
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER