Senin

22 Okt 2018

Pengunjung Hari Ini : 2.005,   Bulan Ini : 59.676
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER
  • Selasa, 16 Juni 2015 | 00:01 WIB

    Telah dibaca 1390 kali

    Derita Angeline Cermin di Sumut: Guru, Sekolah & Tetangga Mengabaikan, Anak Tak Berdosa Jadi Korban

    Budiman Pardede
    Anggota DPRDSU Robi A Harahap (kiri atas) dan Burhanuddin Siregar (kanan bawah) serta warga Medan Hilda Zunairah (kiri bawah) dan Nurjannah saat diwawancarai, Senin (15/6/2015). (Foto: MartabeSumut).

    MartabeSumut, Medan

     

    Alasan kesibukan kerap kali dijadikan justifikasi (pembenaran) oleh lingkungan sekunder anak-anak semisal guru, sekolah, tetangga dan kerabat terdekat. Sehingga sering membenarkan sikap abai, lalai, enggan mencampuri bahkan tidak peduli atas perubahan sikap seorang anak di lingkungan sendiri. Padahal, keganjilan perilaku si anak yang muncul sudah sangat memprihatinkan dan dilatarbelakangi tindak kekerasan fisik/psikis dari lingkungan primer (keluarga/orangtua).

     

    Penilaian tersebut dilontarkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera  Utara (DPRDSU) H Burhanuddin Siregar, SE dan Robi Agusman Harahap, SH, serta 2 warga Medan Hilda Zunairah (28) dan Nurjannah (26). Dihubungi MartabeSumut secara terpisah, Senin (15/6/2015) di Medan, ke-2 wakil rakyat Sumut dan ke-2 perempuan berstatus ibu itu sepakat menyatakan, derita berujung kematian bocah usia 8 tahun Angeline di Bali merupakan bukti nyata kegagalan, kelalaian, ketidakpedulian hingga pengabaian pihak guru, sekolah maupun tetangga lingkungan terdekat.


     

    Miris Nasib Tragis Angeline

     

    Hilda Zunairah mengakui, hingga kini dirinya miris mengikuti perkembangan peristiwa tragis yang dialami gadis kecil kelas II SD tersebut. Menurut Hilda, penganiayaan dan penelantaran terhadap Angeline terindikasi berlangsung kurun waktu panjang. Bila guru/sekolah dan lingkungan terdekat Angeline peduli atas perubahan drastis yang disaksikan, katanya, besar kemungkinan nyawa Angeline dapat diselamatkan. "Sebenarnya kita sesalkan orangtua kandungnya kenapa begitu mudah menyerahkan hak asuh anak kepada orang lain. Tapi mau apa lagi, nasi telah jadi bubur dan semoga jadi pelajaran berharga bagi guru, sekolah, tetangga dan masyarakat luas untuk aware (jeli/peduli-Red)," cetus warga Jalan Flamboyan Raya Tanjung Sari Medan ini. Hilda berkeyakinan, tatkala lingkungan keluarga dan orangtua melakukan tindak kekerasan fisik atau psikis terhadap anak sendiri, satu-satunya yang bisa mengetahui dan menyelamatkan si anak adalah lingkungan terdekat kedua yaitu guru, sekolah, tetangga bahkan kerabat. "Sayang sekali guru, sekolah dan tetangga Angeline kurang jeli di sana. Apapun alasan kesibukan mereka, sulit diterima akal karena tidak ada upaya mencari tahu dengan serius. Sebab kita saja yang lihat media bisa merasakan penderitaan Angeline telah berlangsung cukup lama. Lalu, kok perhatian guru/sekolahnya sebatas memandikan karena bau dan bertanya-tanya doang," heran ibu beranak 1 tersebut dengan rona kecewa.

    Cambuk Bagi Guru & Sekolah

    Hal senada disampaikan Nurjannah. Warga Jalan Karya Ujung Medan Barat itu menegaskan, musibah Angeline patut dijadikan "cambuk" bagi kalangan guru/sekolah di Indonesia agar semakin peduli memikirkan perkembangan anak didik. "Pedulilah, kan guru dan sekolah yang lebih tahu perubahan seorang anak setelah keluarga/orangtuanya," sindir Jannah kesal. Ibu beranak 1 ini pun tak habis fikir mengetahui guru, sekolah dan tetangga Angeline di Bali terkesan permisif sehingga kurang cepat menunjukkan kepedulian nyata. Jannah percaya, siswa didik yang berperilaku tak wajar dalam lingkungan seyogianya diselidiki dengan pendekatan khusus. Semangat kepedulian kepada sesama disebut Jannah sebagai kunci dasar mengawali aksi penyelidikan kepada siapa saja termasuk anak-anak. Jannah mengungkapkan, kepedulian kalangan guru/sekolah terhadap sesama di lingkungan terkecil beraktivitas, kini pantas digugat tatkala kasus Angeline ikut menorehkan luka teramat dalam bagi seluruh rakyat Indonesia. "Kedepan tak boleh begitu supaya jangan ada lagi anak tak berdosa jadi korban," imbau Hilda dan Jannah serempak, dengan mata berkaca-kaca mengenang tragisnya hidup Angeline.

    Guru dan Tetangga Jangan Apatis

    Sementara anggota Komisi C DPRDSU Robi Agusman Harahap, SH, mengatakan, pesan moral yang perlu diambil dari derita Angeline adalah cermin sikap apatis dan lalai pihak guru/sekolah dan tetangga hingga berujung hilangnya nyawa 1 anak bangsa yang tidak berdosa. Sebagai pihak terdekat setelah orangtua dan keluarga, ucap legislator asal Daerah Pemilihan (Dapil) Sumut VII Kab Tapsel, Kab Madina, Kab Padang Lawas, Kab Padang Lawas Utara dan Kota Padang Sidimpuan itu, harusnya guru, sekolah dan tetangga menjadi pihak paling utama untuk dimintai tanggungjawab moral. "Pesan moralnya, sikap apatis berdalih sibuk dan enggan mencampuri urusan anak orang lain sebaiknya dihilangkan. Kita sedih mengetahui kejadian di sana. Kalo guru, sekolah dan tetangga tidak apatis/lalai, niscaya cerita tentang Angeline bisa jadi berbeda," yakin Robi. Politisi Partai Keadilan Persatuan Indonesia (PKPI) ini mengajak semua guru, sekolah dan masyarakat luas di Indonesia khususnya warga Provinsi Sumut untuk bercermin dengan derita Angeline. Selanjutnya memantapkan rasa peduli terhadap perubahan-perubahan negatif dari anak-anak yang berada di lingkungan masing-masing. "Bukan malah apatis, lalai apalagi remeh menyaksikan berbagai keganjilan perilaku anak-anak yang telah dikenal semenjak dini di lingkungan sehari-hari," ingat Robi.

    Reaksi Guru Lamban, Anak Jadi Korban

     

    Sedangkan anggota Komisi A DPRDSU Burhanuddin Siregar, SE, lebih keras lagi. Bagi politisi PKS itu, reaksi guru/sekolah Angeline tergolong sangat lamban padahal sudah lama menyaksikan keganjilan perilaku anak didik sendiri. "Lambat kali mereka follow-up sampai Angeline jadi korban pembunuhan tragis. Jangan lupa, saya rasa musibah Angeline merupakan bagian dari tanggungjawab moral seumur hidup para guru, sekolah dan tetangga di sana," tegasnya lantang. Wakil rakyat asal Dapil Sumut VII Kab Tapsel, Kab Madina, Kab Padang Lawas, Kab Padang Lawas Utara dan Kota Padang Sidimpuan ini memastikan, kalangan guru, sekolah dan tetangga merupakan institusi terdekat untuk menilai seorang anak dari sisi penampilan, kerapian, perilaku hingga dugaan terjadinya tindak kekerasan fisik/psikis. Artinya, imbuh Burhanuddin lebih jauh, bila sampai 3 institusi penting tersebut lalai dan abai menunjukkan kepedulian tapi sibuk cari-cari alasan, niscaya korban-korban baru bakal menyeruak ke permukaan. Burhanuddin juga meminta pihak rumah sakit, Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial di Indonesia khususnya Provinsi Sumut agar jeli berkoordinasi dan memperketat sistem adopsi anak. "Kejadian Angeline tak boleh terulang lagi. Guru, sekolah, tetangga, masyarakat luas dan pemerintah harus aktif dan mau peduli mengawasi anak-anak di sekitar masing-masing. Penegak hukum saya sarankan menindak pelaku penelantaran, kekerasan dan pembunuhan Angeline (anak) dengan pasal berlapis. Cocoknya dituntut hukuman mati atau seumur hidup," pinta anggota Komisi A DPRDSU membidangi hukum/pemerintahan tersebut. Seperti diketahui, sejak 16 Mei 2015 Angeline dikabarkan hilang dari rumahnya di Bali. Namun pekan lalu polisi menemukan jasad Angeline terkubur di belakang rumah ibu angkatnya. Polisi telah menetapkan Ag sebagai tersangka pembunuhan dan ibu angkatnya Margarieth Megawe sebagai tersangka penelantaran anak. Tragisnya kematian Angeline membuat mata rakyat Indonesia terbelalak. Hal tersebut bisa dibuktikan dengan munculnya Tagar #Angeline di sosial media Twitter dan sempat jadi trending topic hingga saat ini. Farewell to you cute little girl Angeline, you may Rest In Peace in heaven now...Amin. (MS/BUD)


     
     
    Kirim Komentar Anda
     
    Nama :
    Kota :
    Email :
    Komentar :
       
     

     
    (Masukkan 6 kode di atas)

     

       
     


    Memahami UU PERS Nomor 40 tahun 1999

    Akhir-akhir ini banyak kalangan internal (pegiat, organisasi profesi/perusahaan) PERS maupun pihak eksternal (masyarakat/narasumber) yang keliru dan main hakim sendiri saat menilai kinerja PERS.

    Melongok UU Lalu LIntas Nomor 22/2009

    Sampai saat ini pemakai sepeda motor/angkutan umum banyak keberatan/ memperdebatkan UU No 22/2009. Diantaranya pengemudi sepeda motor, yang diwajibkan menghidupkan lampu siang hari.

    3 Media Penyebab Timbulnya Jerawat

    Banyak orang tak menyangka bahwa selain debu yang kerap melekat dalam kulit, ternyata ada 3 media (barang-barang) yang selalu kita pakai dan berisiko menimbulkan jerawat.

    Seks Mau Meningkat, Makan Ikan !

    Anda mau sukses urusan seks? Segara konsumsi ikan ! Sebab ikan memberi banyak manfaat bagi kesehatan. Riset terbaru menunjukkan, nutrisi yang terkandung dalam ikan membantu menaikkan gairah seks pria.

    MARTABE SUMUT

  • HOME
  • MARTABE TERPANAS
  • KELILING MEDAN
  • YA AKU MENGATAKANNYA
  • NGINTIP DPRDSU
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
  • SOSOK MARTABE
  • DAERAH
  • INDEX BERITA
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER