Senin

22 Apr 2019

  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER
  • Senin, 12 Mei 2014 | 21:25 WIB

    Telah dibaca 926 kali

    Pilpres 9 Juli 2014 Rawan Kecurangan ?

    Grevin

    MartabeSumut, Medan

     

    Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) 9  April 2014 memang telah selesai. Namun banyaknya kisruh yang terjadi mempertegas indikasi bahwa Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak kredibel, tidak independen, tidak jujur dan tidak adil dalam pelaksanaan Pileg. Demikian halnya Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), juga seakan tidak berdaya sehingga Pemilu Presiden (Pilpres) 9 Juli 2014 diduga kuat rawan kecurangan.

     

    Tudingan tersebut dilontarkan Ketua Umum Forum Akademisi IT (FAIT), Hotland Sitorus, melalui rilis yang diterima MartabeSumut, Senin (12/5/2014). Dia menegaskan, pihaknya sudah menyaksikan pelaksanaan Pileg yang kenyataannya penuh kecuranganyang dilakukan pelaksana pemilu itu sendiri. "Itu artinya, KomisionerKPU tidak kredibel dan tidak independen," ujar Hotland Sitorus. Sementara itu, pelaksanaan Pilpres yang tinggal menghitung hari dinilainya akan bernasib sama penuh kecurangan. Hotland Sitorus mengatakan, tidak ada niat baik KPU untuk memperbaiki sistem pelaksanaan pemilu pada saat pilpres nanti. Indikasi kecurangan masih kental, hal ini dapat dilihat dari kinerja KPU selama Pileg. Komisioner KPU dan Bawaslu belum dapat dipercaya. “Komisioner KPU dan Bawaslu tidak dapat dipercaya. Kinerjanya buruk dan penanganan kisruh yang terjadi saja KPU saling lempar tanggung jawab," katanya.


    Potensi Kecurangan Pilpres


    Menyinggung potensi kecurangan yang akan terjadi di Pilpres nanti, Hotland Sitorus mengatakan, potensi kecurangan terbesar Pilpres ada di sistem IT KPU. "Potensi kecurangan Pilpres yang sangat potensial dan signifikan dalam perhitungan suara adalah saat perhitungan suara dengan menggunakan sistem IT KPU di semua tingkatan. Para peserta Pilpres harus serius di bidang IT ini," tegas Hotland Sitorus.


    Sementara itu, Sekjen FAIT Janner Simarmata mengusulkan agar sistem IT yang akan digunakan dalam proses rekapitulasi hasil pemungutan suara saat Pilpres kelak divalidasi terlebih dahulu. "KPU sebaiknya mengusulkan validasi sistem IT yang digunakan. Ini penting untuk menambah kepercayaan masyarakat, serta untuk menepis kalau KPU tidak dapat dipercaya.” Ungkap Janner Simarmata. Seharusnya, kata Janner, KPU menyadari bahwa Pilpres bukan sekedar pertarungan para pasangan capres saja. Tetapi yang lebih penting, Pilpres menentukan masa depan bangsa 5 tahun ke depan. "Jadi, jujurlah dalam mengemban tugas yang mulia ini," ingatnya. (MS/GREVIN)

    Share this

     
     

    Berikan Komentar Anda 'Pilpres 9 Juli 2014 Rawan Kecurangan ?'


    Memahami UU PERS Nomor 40 tahun 1999

    Akhir-akhir ini banyak kalangan internal (pegiat, organisasi profesi/perusahaan) PERS maupun pihak eksternal (masyarakat/narasumber) yang keliru dan main hakim sendiri saat menilai kinerja PERS.

    Melongok UU Lalu LIntas Nomor 22/2009

    Sampai saat ini pemakai sepeda motor/angkutan umum banyak keberatan/ memperdebatkan UU No 22/2009. Diantaranya pengemudi sepeda motor, yang diwajibkan menghidupkan lampu siang hari.

    3 Media Penyebab Timbulnya Jerawat

    Banyak orang tak menyangka bahwa selain debu yang kerap melekat dalam kulit, ternyata ada 3 media (barang-barang) yang selalu kita pakai dan berisiko menimbulkan jerawat.

    Seks Mau Meningkat, Makan Ikan !

    Anda mau sukses urusan seks? Segara konsumsi ikan ! Sebab ikan memberi banyak manfaat bagi kesehatan. Riset terbaru menunjukkan, nutrisi yang terkandung dalam ikan membantu menaikkan gairah seks pria.

    MARTABE SUMUT

  • HOME
  • MARTABE TERPANAS
  • KELILING MEDAN
  • YA AKU MENGATAKANNYA
  • NGINTIP DPRDSU
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
  • SOSOK MARTABE
  • DAERAH
  • INDEX BERITA
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER