Sabtu

17 Nov 2018

Pengunjung Hari Ini : 456,   Bulan Ini : 56.264
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER
  • Senin, 28 Oktober 2013 | 15:57 WIB

    Telah dibaca 1829 kali

    Ironi Sumpah Pemuda, Jangan Sampai Rakyat (Buruh) Mengatakan Cuma yang Punya Uang Bisa Menang

    Budiman Pardede
    Ketua Umum DPP SBSI 1992 Sunarti, saat berorasi di depan gedung DPRDSU, Senin siang (28/10/2013). (Foto: MartabeSumut).

    MartabeSumut, Medan

     

    Pejabat, aparat, birokrat, wakil rakyat hingga konglomerat di Indonesia sudah saatnya memperbaiki budaya kerja dan peduli kepada persoalan masyarakat. Sebab, satu ironi peringatan hari Sumpah Pemuda tahun 2013, jangan sampai rakyat (buruh/pekerja) mengatakan bahwa siapa yang punya uang hanya dialah yang bisa menang dan mampu menyelesaikan masalah.

     

    Peringatan tersebut dilontarkan Ketua Umum DPP SBSI 1992 Sunarti, saat berorasi di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara (DPRDSU), Senin siang (28/10/2013). Berbicara di hadapan ribuan demonstran di depan gedung DPRDSU Jalan Imam Bonjol Medan, Sunarti menegaskan, buruh atau pekerja adalah salah satu komponen rakyat  yang selalu diposisikan kecil, kalah dan tidak mampu menyelesaikan masalah. Menurutnya, berbagai aspirasi buruh/pekerja yang kerap disuarakan kritis kepada pengusaha maupun penguasa, menjadi satu situasi yang sering dianggap sepele. Artinya, imbuh dia, buruh dan pekerja juga tidak mau turun ke jalan bila pemerintah pusat dan daerah serius mendukung persoalan rakyat kecil. "Inilah ironi peringatan hari Sumpah Pemuda tahun 2013. Buruh dan pekerja se-Indonesia yang didominasi generasi muda justru turun ke jalan. Setiap turun ke jalan kami pasti selalu dicurigai anarkis. Padahal buruh bukan sekadar menuntut 50 persen kenaikan upah atau berapapun jumlahnya. Tapi cuma menuntut bisa makan, punya rumah dan mampu membiayai kebutuhan pokok yang terkendali bukan melambung tinggi," sesal Sunarti dengan nada tinggi, melalalui pengeras suara. Bagi Sunarti, apapun tuntutan buruh/pekerja sekarang ini, jangan sampai dikecilkan atau dianggap sepele oleh kalangan penguasa dan pengambil kebijakan di pusat maupun daerah. "Jangan sampai rakyat mengatakan cuma yang punya uang bisa menang bila menuntut sesuatu," tegasnya.

     

    Lawan Rezim yang Mempertahankan Politik Upah Murah

     

    Diakui Sunarti, dirinya sengaja datang ke Medan hanya untuk memastikan kalau seluruh buruh/pekerja yang ada di Medan/Sumut sudah bergerak melawan rezim penguasa/pengusaha yang mempertahankan politik upah murah. "Mari kita lawan politik upah murah penguasa dan pengusaha. Kita akan berunjukrasa dan turun ke jalan sejak 28 Oktober sampai 1 November 2013 demi memajukan kesejahteraan pekerja/buruh," ingat Sunarti. Hiruk pikuknya upah buruh/pekerja yang rendah di Indonesia disebut Sunarti menuntun semangat seluruh buruh Indonesia menggugat aturan-aturan yang tidak berpihak kepada rakyat kecil. Makanya, lanjut Sunarti lagi, aksi buruh yang dilakukan serentak di penjuru Tanah Air sejak peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober hingga 1 November 2013, merupakan satu ironi kebangsaan yang bermaksud menyatakan realita miris yang sebenarnya terjadi.

     
    "Jangan salahkan kami kalau kami turun ke jalan. Kami tidak menuntut kaya tapi sejengkal perut. Kami minta seluruh buruh di Sumut turun ke jalan sampai 1 Nopember 2013 agar tahun 2014 upah buruh naik. Tak peduli hidup atau mati karena usaha kami demi anak cucu kedepan. Ini tanah kita, bukan ngontrak atau budak di negeri sendiri. Kami akan berteriak sampai pemerintah memutuskan upah yg laik kepada buruh di Indonesia," teriaknya, diikuti yel-yel massa 'tolak upah murah, hapus sistem kerja outsourching, cabut semua aturan yang merugikan pekerja/buruh'. (MS/BUD)

     


     
     
    Kirim Komentar Anda
     
    Nama :
    Kota :
    Email :
    Komentar :
       
     

     
    (Masukkan 6 kode di atas)

     

       
     


    Memahami UU PERS Nomor 40 tahun 1999

    Akhir-akhir ini banyak kalangan internal (pegiat, organisasi profesi/perusahaan) PERS maupun pihak eksternal (masyarakat/narasumber) yang keliru dan main hakim sendiri saat menilai kinerja PERS.

    Melongok UU Lalu LIntas Nomor 22/2009

    Sampai saat ini pemakai sepeda motor/angkutan umum banyak keberatan/ memperdebatkan UU No 22/2009. Diantaranya pengemudi sepeda motor, yang diwajibkan menghidupkan lampu siang hari.

    3 Media Penyebab Timbulnya Jerawat

    Banyak orang tak menyangka bahwa selain debu yang kerap melekat dalam kulit, ternyata ada 3 media (barang-barang) yang selalu kita pakai dan berisiko menimbulkan jerawat.

    Seks Mau Meningkat, Makan Ikan !

    Anda mau sukses urusan seks? Segara konsumsi ikan ! Sebab ikan memberi banyak manfaat bagi kesehatan. Riset terbaru menunjukkan, nutrisi yang terkandung dalam ikan membantu menaikkan gairah seks pria.

    MARTABE SUMUT

  • HOME
  • MARTABE TERPANAS
  • KELILING MEDAN
  • YA AKU MENGATAKANNYA
  • NGINTIP DPRDSU
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
  • SOSOK MARTABE
  • DAERAH
  • INDEX BERITA
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER