Minggu

21 Apr 2019

  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER
  • Minggu, 4 Desember 2011 | 03:06 WIB

    Telah dibaca 1914 kali

    Catatan Perjalanan Jurnalis Budiman Pardede dari Kuala Lumpur

    Budiman Pardede
    Sentral Kuala Lumpur. (Foto: MS/MartabeSumut).

    Yook Bercermin dengan Disiplin Orang Malaysia di Tempat Publik

    Merokok Sembarangan Didenda RM 10.000, Lalulintas Tertib & SPBU Isi Sendiri

    Catatan Perjalanan Jurnalis Budiman Pardede dari Kuala Lumpur

     

    Hari Jumat siang 1 Juli 2011 lalu udara sangat cerah di Kuala Lumpur Malaysia. Arloji di tangan menunjukkan waktu pukul 1.35 waktu Kuala Lumpur atau persisnya pukul 12.35 WIB di Kota Medan. Dalam kondisi matahari terik tersebut, saya tiba di Kuala Lumpur International Airport. Negara jiran yang hingga kini terus diributkan di Tanah Air karena kerap "membantai" TKI. Seorang rekan warga kebangsaan Malaysia bernama Shin Yan (35) terlihat menunggu kedatangan saya di "balai ketibaan". Pria keturunan Tionghoa itu saya kenal sejak 8 tahun lalu. Dia memang sengaja datang menjemput dan berkenan mengajak saya mengenal seluk beluk Kota Kuala Lumpur lebih jauh lagi. Sementara kunjungan saya kala itu, adalah kunjungan kedua setelah sebelumnya pada tahun 1999 berkesempatan mampir dalam satu kegiatan kemahasiswaan dan organisasi kepemudaan.

    Awalnya saya langsung berjabat akrab dengan Shin sambil duduk di sudut tempat yang ada. Tanpa sadar, saya mengeluarkan rokok dan berniat menghisapnya. Tapi Shin Yan langsung mencegah dan berkata : "Dont you see that, we gonna pay RM 10.000 if the police saw us".  (Kamu tidak melihat itu? Kita akan dikenai denda RM 10.000 atau sekira Rp25 juta oleh polis bila merokok ditempat umum," kata Shin, seraya menunjuk plang pemberitahuan yang berada di atas pojok tempat kami duduk). Saya langsung tersenyum dan menggaruk kepala yang tidak gatal. Padahal saya juga tahu kalau Shin termasuk perokok aktif. Lalu saya melongok keheranan ke berbagai arah mencari-cari sosok polisi. Namun tak ada seorangpun terlihat. Menariknya lagi, keramaian bandara, siang itu, memang tidak menampakkan fakta tanda-tanda kepulan asap dari semburan hisapan rokok. Toh keheranan itu saya tahan di dalam hati.

    Beberapa saat kemudian saya diajak Shin menuju parkir mobil. Shin sigap menyetir mobilnya dan melaju keluar area bandara. Lima menit setelah di dalam mobil, saya masih saja merenungkan "teguran" Shin menyangkut rokok. Kecamuk itu menggelora terus sementara mata saya jelalatan memperhatikan ruas jalan dan arus lalulintas kendaraan yang berseliweran. Saya kembali mengeluarkan rokok dan berkata pada Shin. "May i smoke here now?" (Bolehkah saya merokok sekarang?). Shin justru menjawab saya dengan tawa keras sekali sambil mengeluarkan rokok dari kantongnya. "Hahahahahha, lets smoke. There is no rule and no police here. I already guess what you gonna do in my car". (Mari kita merokok, tak ada aturan dan tak ada polisi di sini. Saya sudah menduga apa yang akan kamu lakukan setelah berada di mobil," cetus Shin tersenyum-senyum).

    Tertib Lalulintas

    Dua jam berikut kami sudah tiba di Sentral Kuala Lumpur. Satu Kota yang saat ini cukup padat sampai-sampai sejak 2010 pusat pemerintahan Malaysia dipindahkan ke salah satu state bernama Putra Jaya (wilayah pengembangan baru dengan perjalanan 45 Menit dari Kuala Lumpur). Pertama yang saya lihat di Sentral Kuala Lumpur adalah kepadatan bangunan dan lalulintas yang teramat ramai. Saya tak bisa membendung rasa takjub. Bukan apa-apa, ramainya lalulintas tidak berimplikasi terhadap kemacetan kota. Semua pemakai jasa jalan justru memperlihatkan mental disiplin berkendara. Perlu diketahui juga, Malaysia hanya mengenal 2 lampu lalulintas pengatur jalan. Merah dan hijau. Ketika tanda hijau menyala, pemakai jasa jalan boleh bebas melintas. Namun saat lampu hijau berubah "kelap-kelip hidup mati" (kalau di Indonesia lampu kuning), maka secara sigap semua pengendara menghentikan kendaraan karena tanda-tanda lampu merah segera muncul.

    SPBU Isi Sendiri

    Usai berkeliling 1 jam di tengah kota, Shin memutuskan menuju SPBU (galon minyak) Petronas. Lagi-lagi perasaan saya semakin heran dan kagum. Pasalnya, semua konsumen tampak antre teratur mengambil posisi masing-masing. Pengendara sepeda motor menuju pengisian sepeda motor, begitu pula mobil pribadi dan pengangkutan umum ke tempat terpisah. Uniknya lagi, tak satupun terlihat petugas SPBU melayani konsumen. Tiba giliran Shin, saya mengamati seksama tangannya mengeluarkan 1 kartu dari dompet dan menggesek di tempat pengisian. Lalu menekan jumlah liter yang diinginkan untuk selanjutnya memasukkan selang ke tangki bahan bakar mobil. Setelah masuk ke dalam mobil, saya mendapat informasi dari Shin bahwa pengisian bahan bakar di Malaysia sudah menerapkan metode swa-isi dengan pembayaran kartu kredit atau kartu jaminan sosial warga. 

    Penjelasan Shin kembali memunculkan kecamuk hati dengan nuansa "iri" atas keberhasilan pembangunan mental dan disiplin warga Malaysia. Pertanyaan kembali menggelayut di benak saya. "Mengapa jauh-jauh datang dari Sumatera Utara, terbang ribuan mil dari Medan tapi akhirnya disuguhi sistem kepatuhan sikap luar biasa warga negara Malaysia di tempat publik". Saya pun langsung terdiam malu mendengar penjelasan Shin yang sedikitpun tidak menyiratkan bangga apalagi bertanya tentang kondisi di Medan/Indonesia.

    Tapi memang tidak adil juga rasanya kalau saya "iri" hanya gara-gara membandingkan bentuk buruk disiplin publik warga Kota Medan lalu menghakimi warga negara asing. Usai lamunan buyar, saya kembali menatap sekeliling SPBU yang mayoritas pemilik kendaraan kompak menghargai antrean pengendara lain. Nah, dari sinilah awal semangat kecil saya menuliskan realitas atas kekompakan disiplin publik di Malaysia. Sebab saya sangat meyakini, untuk menulis satu catatan perjalanan, haruslah mencerminkan ekspresi ril dalam menerjemahkan pengalaman yang dirasakan sehingga dapat dijadikan studi percontohan bagi pihak berkompeten atau siapapun.

    Dalam sekejap saya sudah harus mengakui kepada Shin bahwa sisi disiplin publik warga Malaysia terkait merokok, berlalulintas hingga sistem swa-isi bahan bakar kendaraan jauh unggul dibanding Indonesia. Shin hanya terdiam mendengar pengakuan saya. Tapi saya kembali "menggelitik" dia dalam bentuk kritik terkait kemajuan Malaysia pada beberapa aspek itu membuat sebagian besar warganya sombong terhadap pendatang, kejam pada TKI serta minim penghargaan atas nilai-nilai kemanusiaan. "I am not kind like that, Bud. But i agree, most people in Malaysia too arogant in behaviour and Indon people full of hospitality". (Saya tidak seperti itu Bud. Tapi saya setuju, umumnya sikap rakyat Malaysia sangat arogan sedangkan masyarakat Indonesia penuh keramahtamahan," tiba-tiba Shin nyeletuk, sembari tersenyum kecil menyetir mobil keluar dari SPBU). (***)

    Share this

     
     

    Berikan Komentar Anda 'Catatan Perjalanan Jurnalis Budiman Pardede dari Kuala Lumpur'


    Memahami UU PERS Nomor 40 tahun 1999

    Akhir-akhir ini banyak kalangan internal (pegiat, organisasi profesi/perusahaan) PERS maupun pihak eksternal (masyarakat/narasumber) yang keliru dan main hakim sendiri saat menilai kinerja PERS.

    Melongok UU Lalu LIntas Nomor 22/2009

    Sampai saat ini pemakai sepeda motor/angkutan umum banyak keberatan/ memperdebatkan UU No 22/2009. Diantaranya pengemudi sepeda motor, yang diwajibkan menghidupkan lampu siang hari.

    3 Media Penyebab Timbulnya Jerawat

    Banyak orang tak menyangka bahwa selain debu yang kerap melekat dalam kulit, ternyata ada 3 media (barang-barang) yang selalu kita pakai dan berisiko menimbulkan jerawat.

    Seks Mau Meningkat, Makan Ikan !

    Anda mau sukses urusan seks? Segara konsumsi ikan ! Sebab ikan memberi banyak manfaat bagi kesehatan. Riset terbaru menunjukkan, nutrisi yang terkandung dalam ikan membantu menaikkan gairah seks pria.

    MARTABE SUMUT

  • HOME
  • MARTABE TERPANAS
  • KELILING MEDAN
  • YA AKU MENGATAKANNYA
  • NGINTIP DPRDSU
  • OLAHRAGA
  • NASIONAL
  • SOSOK MARTABE
  • DAERAH
  • INDEX BERITA
  • IKLAN BARIS
  • SUARA PEMBACA
  • OPINI ANDA
  • FOTO ANDA
  • REDAKSI
  • DISCLAIMER